Latest Posts

Judul.         : Mawar Surga
Penulis.       :Dzakeeya Nist / Azri Zakkiyah
Penerbit.      :Matapena Jogja
Thn terbit.    :2008
Jumlah halaman :264

Novel ini adalah jenis novel islami anak muda. Dalam novel ini berjudul "el wardah" el wardah berarti "rose". El wardah adalah judul asli dari mawar surga.
Mawar surga bercerita tentang rufaidah sehari-hari. Sombong, kekanak-kanakan, cerdas, dan gadis berbakat. Tentang pertemuannya dengan orang penting dalam hidupnya. Guru misterius barunya yang selalu peduli padanya dalam setiap aktivitasnya. Gurunya yang selalu menyarankan untuk memiliki perubahan dari kepribadiannya yang sombong dan kekanak-kanakan.
Guru rufaidah adalah penulis dari el wardah. Namanya habiburahman fajrie seperti idolanya habiburhaman el erazy. El wardah memberitahu tentang masalahnya. Ada kisah cinta dan perjuangan untuk menemukan kepercayaan. Tentang yang lain "rufaidah".
Untuk rufaidah habub masih menjadi misteri. Guru baru yang tiba-tiba datang menggantikan pak hisbullah yang meninggal karena kecelakaan. Dia berbeda dengan gurunya yang lain. Tapi untuk pak habib, rufaidah nama yg begitu dekat dengan dirinya. Dekat seperti mawar kecil dihatinya. 
Rufaidah bertemu dengan zahir, zahir adalah teman istri pak habib ibu sasmitha yg dulu juga pernah ditaksirnya. Rufaidah melupakan pak habib dan sekarang bersama dengan zahir walaupun umurnya 27th lebih muda dari rufaidah.
Kekurangan dari novel ini adalah cerita yang berjalan tidak kedepan juga tidak kebelakang. Awal ceritanya pertemuan antara pak habib dan rufaidah, setelah itu masa lalu pak habib, kehidupannya, istrinya. Masa lalu zahir dan istri pak habib. Kembali ke sekolah dengan rufaidah, kembali lagi menceritakan masa lalu ketika kuliah dan awal menikah. Jadi jika tidak dibaca berulang-ulang akan susah dimengerti meskipun si penulis pada saat itu masih duduk dikelas 3 SMU. Ceritanya mudah dicerna tetapi alurnya cukup membingungkan.

Desinta Ika Rezalina
Semester II Prodi S1 kep
Stikes Icsada Bojonegoro

Judul.      :Santri Semelekete
Penulis.    :Ma’rifatun Baroroh
Penerbit.   :Matapena
Tahun.      :2012
Jumlah Hal. :206

Novel remaja ini mengisahkan tentang seorang santri Enjoy, alias Endang Jumilah. Seorang cewek bandung,sok tajir, sok gaul, sok jagoan pula, walau sebenarnya merasa lemah. Sebel dan enggak level pacaran sama santri. Levelnya sama cowok gaul. Anggota G@sinx di SMA-nya. Geng yang doyan ngerjain guru dan ngusilin anak-anak yang keliatan rada alim, culun, atau bego banget.
Apa jadinya kalau cewek seperti Endang Jamilah jadi seorang santri? Cewek anggota geng G@sinx di SMA-nya yang suka ngerjain guru dan ngusilin anak-anak yang kelihatan rada alim, culun, atau bego. Atau kalau enggak ngumpul-ngumpul bikin acara sambil ngerumpi dan menggosip.

Enjoy bersenandung pilu, “Betapa malang nasibku…” ketika pertama kali memasuki pintu gerbang pesantren. Setelah melihat teman-temannya yang sekarang adalah gadis-gadis berjilbab, berpakaian kolot gedombrohan. Ada yang pakai daster kayak orang hamil, ada yang pakai sarung kedodoran. Jiwanya meronta-ronta, memberontak ingin lepas. Tapi, ia merasa belum mampu untuk keliaran hidup sendiri mencari duit.

Pada saat sampai dipondok pesantren di daerah Yogyakarta Enjoy ambruk pingsan usai membaca qonun pondok pesantren yang berbaris-baris itu. Barisan peraturan sekolah aja nggak sepanjang itu.
ketika Enjoy dapat kamar baru, ia kaget dan heran. Kok beda banget sama peraturan yang di kantor pondok itu. Enjoy hampir nggak percaya melihat bermacam-macam poster menempel di dinding. Ada gambar Spiderman, Batman, Sakhrukh Khan, Micky Mouse, Avril Lavigne, Iwan Fals, dan Harry Poter. Apalagi di pojokan ada yang lagi asyik manggut-manggut dan geleng-geleng kepala mengikuti irama musik dengan walkman. Sementara mbak Desi sang kepala suku malah lagi asyik mbaca novel Fredy S.
Enjoy merasa sangat beruntung menjadi anggota kamar yang “gue banget” itu. Ternyata pesantren tidak seseram yang ia bayangkan.
Tapi, tetep saja Enjoy bermasalah dengan tugas rutin nyuci baju, ngantri mandi, dan Piket nyuci piring punya anak sekamar. Dan bisa dipastikan untuk tugas yang terakhir ini, harus ada piring yang dikorbankan alias pecah. Enjoy tetep juga dipakai kalah-kalahan sama kakak seniornya.
Enjoy selalu enggak bisa tidur malam gara-gara harus berdesak-desakkan, apalagi di deket Vita yang belum mandi sore. Sementara di samping kirinya si Fera lagi garuk-garuk kepala sambil didis (nyari telur kutu). Meloroti rambutnya helai demi helai mencari telur kutu dengan penuh kenikmatan. Sesekali terdengar bunyi “kletik!” Belum lagi bunyi “Tiuut. Bess!” yang ikutan menambah pengap suasana.

Enjoy samgat susah memendam bakat masa lalunya. Dari suka belanja habis-habisan, diam-diam keluar buat dugem, sampai naksir sama ustadznya sendiri. Ia juga masih berbakat buat ngelabrak cowok-cowok yang coba main-main dengannya.
Dan pada ending novel ini Enjoy akhirnya bisa menikmati tinggal dipesantren itu.

Kelebihan novel ini kita bisa dibuat heran anak remaja anak baru masuk SMA dengan pergaulan yg bisa dibilang bebas, padahal hidup dilingkungan pesantren. Ceritanyapun sangat mudan dipahami dan tidak berbelit-belit.

Kekurangan novel ini adalah banyak menggunakan kata-kata gaul, serta agak kasar. Dan cerita seks juga diceritakan dengan jelas membuat banyak sisi negatif tentang kehidupan dipondok pesantren.

Desinta Ika Rezalina
Semester II Prodi S1 Keperawatan
Stikes ICSADA Bojonegoro

Judul                  : Night  “kesaksian tentang holocaust”
Author               : Elie Wiesel
Penerbit             : Penerbit Erlangga
Tahun Terbit       : 2007
Jumlah Halaman : 208 hal
      Eliiezer adalah seorang anak yahudi berumur lima belas tahun yang tinggal di sebuah kota kecil Sighet, Transylvania. Suatu ketika, tentara Gestapo jerman menyapu bersih daerahnya dan membawa semua warga yahudi ke sebuah Ghetto, tempat tinggal sementara yang dibuat untuk menampung warga yahudi sebelum di pindahkan ke kamp konsentrasi milik nazi di Auschwictz.         
      Beberapa orang tersebut dibagi dalam kelompok yang berbeda untuk mendapat giliran kapan akan dibawa ke Auschwits, tempat dimana seluruh orang yahudi dipekerjakan secara paksa dan diperlakukan semena-mena oleh tentara SS (Schutzstaffel)−sebuah divisi elit nazi yang bertugas sebagai pengawal peribadi hitler sekaligus unit pengamanan khusus jerman−dan pemimpin kamp yang disebut Kapo. Elliezer beserta keluarganya mendapat giliran di hari terakhir.          
      Di sana, bayi-bayi dengan remehnya dibakar di sebuah krematorium. Tempat pembakaran untuk para pekerja yang sudah tak berguna lagi. Seblum ditentukan di bagian mana mereka harus tinggal dan mengabdi, perempuan dan laki-laki di pisah kedalam kelompok yang berbeda. Di sanalah perpisahan Ellie dengan ibu dan adik perempuannya terjadi. Mereka berpisah untuk selamanya. Ia dan ayahnya masuk dalam kamp yang sama dan menjadi pekerja rendahan dengan pakaian seadanya dan makanan alakadarnya. Mereka berhasil melakukan seleksi berkali-kali sehingga dapat terus bekerja, karena yang fisiknya lemah dan tak lolos seleksi akan mendapati nasibnya sama seperti bayi-bayi yang dibakar di dalam krematorium.        
      Suatu ketika, tentara Rusia berhasil menduduki daerah dekat Auschwitz dan hal tersebut membuat jerman berencana memindahkan para pekerja yahudi ke Buchenwald. Lagi-lagi terjadi seleksi dan lagi lagi pembantaian. Mereka yang lolos diharuskan untuk berlari sepanjang puluhan kilometer menuju Gelwitz, ditengah jalan banyak yang tumbang dan ditembak mati tentara SS. Dan ketika sampai, mereka lalu diangkut menggunakan kereta yang satu gerbongnya bisa berisi seratus orang. Walaupun jumlah mereka sudah jauh berkurang setengahnya. Di dalam kereta, yang mendadak mati pun dibuang dengan liar bak sampah ke luar gerbong dan membiarkannya mati di hamparan salju. Ada juga mereka atau bahkan ayah dan anak yang saling bunuh demi mendapatkan sepotong roti.         
      Sesampainya di Buchenwald yang merupakan tujuan terakhir. Ayah Ellie justru harus menemui ajalnya di sini. Sehinggal Ellie menjadi satu-satunya anggota keluarga yang hidup hingga sekarang.      
      Buku ini ditulis secara lugas dan singkat. Memang banyak novel true story bertema sejarah yang sangat mengesampingkan gaya bertutur narasi seperti ini.  Dan tak masalah memang. Buku ini terkesan terlalu datar untuk sebuah kejadian setragis itu. Jelas saja sih, yang satu dituliskan dengan gaya ala reportase dan yang satu ditulis dengan gaya buku catatan pribadi.
Terlebih novel ini tak terlalu tebal, hanya terdiri dari 175 halaman dengan ukuran kertas kecil dan paragraf-paragraf pendek yang tak membosankan.

Desinta Ika Rezalina
Semester II prodi S1 Keperawatan
Stikes Icsada Bojonegoro

    
 Puskesmas sebagai salah satu instansi pemerintah yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dituntut untuk meningkatkan kualitas kinerja dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sehingga pelayanan yang diberikan mampu memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan masyarakat serta mampu memberikan kepuasan.
      Terlihat di bagian rekam medis atau loket tempat pendaftaran berobat terdapat pasien yang sedang mengantri, karena puskesmas tersebut poned jadi pelayanan untuk UGD dibuka 24jam.
Mungkin karena waktu sudah menjelang sore jadi pelayanan tidak semaksimal ketika jam kerja di pagi hari, terlihat pasien sudah cukup lama menunggu dan masih belum ditangani oleh tenaga kesehatan yang ada. Saya fikir karena terbatasnya perawat jaga, namun saya lihat terdapat perawat yang sedang santai ngobrol, akan tetapi saya juga berfikir mungkin perawat tersebut tidak bertugas jaga di UGD, tetapi di ruang rawat inap.
      Saya melihat wajah keluarga pasien yang mengantar gelisah jalan mondar mandir dan sempat menanyakan pada petugas loket pendaftaran mengapa lama sekali tidak juga dimasukkan keruangan untuk diperiksa? Awalnya perawat yang ada diloket menjawab dengan sopan akan tetapi lama-lama menjawab dengan nada yang agak keras serta wajah yang sebal.
      Tiap instansi kesehatan pastilah memiliki SOP, akan tetapi terkadang untuk melayani SOP tidak dibutuhkan. Pelayanan kesehata adalah pelayanan kunjungan yang dekat dengan desa-desa setelah polindes, pustu atau ponkesdes, saya berharap agar petugas kesehatan mengurangi sikap ketusnya terhadap pasien, apapun yang dirasakan dalam hati, apapun masalah yang mungkin dihadapi nantilah dulu lah yang pertama melayani pasien dengan sepenuh hati meskipun pasien juga terkadang rewel, crewet dll.


Judul                :Arvayuna
Penulis             :RiannaWati
Penerbit           :MasmediaBuanaPustaka
tahun terbit      :2009
Tebal                : 200 halaman


Novel yang memaparkan ketabahan lelaki yang beristeri tiga. Isteri yang ketiga-tiganya memiliki keterbatasan fisik.

Ardi seorang lelaki luar biasa yang menghalalkan dirinya untuk dua orang gadis cacat. Ayu seorang tuna rungu dan Dina seorang yang lumpuh. Kehidupanya dengan dua orang gadis cacat tersebut didasari pada iman dan kecintaanya pada Allah dan Rasulullah saw. Cerita ini semakin dramatis saat Ardi bingung ketika ia dihadapkan dengan permintaan kedua istrinya agar Ardi menikah lagi! Pilihan yang sama jatuh pada seorang wanita cacat juga, Eva, seorang gadis buta yang sebatang kara.
Namun, perlahan-lahan ada getaran–getaran cinta yang mendatangi Ardi. Cinta yang hanya dipersembahkan untuk Sang Kekasih, Allah swt dan Rasulullah saw. Kisah Rasulullah saw yang menikahi istri–istrinya yang hampir semuanya janda, membangun kalbu Ardi untuk menerima Eva sebagai istri ketiganya.
Semua berjalan baik, Ardi berlaku adil dan ketiga istrinya menempatkan diri seolah istri–istri Rasulullah. Hingga suatu hari di antara mereka bertiga terbesit cemburu sampai memuncak menjadi cemburu hebat. Ketiga istri Ardi merasa iri dengan yang lain dan menyalahkan kekurangan masing-masing. Masalah-masalah kompleks muncul pada bagian ini, dimana Ardi dihadapkan banyak pilihan yang harus dipikirkan, agar tidak tersesat dan salah langkah.
Ardi bertambah gusar dengan kecemburuan istri-istrinya satu sama lain. Selain itu, yang mengisi benaknya kali ini apakah ia harus menikah lagi? Beberapa kali ia melihat gadis dengan fisik sempurna, lalu terbesit dalam hatinya untuk menikah lagi. Seringkali ia melihat istri-istrinya kewalahan mengurus rumah, anak bahkan diri mereka sendiri. Bertambah gusarlah hati Ardi. Ia ingin menikah lagi! Dengan seorang yang sempurna. Komplekslah masalah yang ada dalam novel ini. Perjalanan seorang yang ingin mencontoh pribadi Rasululullah mendapat cobaan.
Istri-istri Ardi dalam puncak permusuhan karena rasa iri. Sementara itu seorang gadis bernama Rissa terus-menerus datang ke kantor Ardi. Gadis yang sempurna seperti Rissa, selalu membuat Ardi mempunyai pikiran untuk menikah lagi, dengan seorang gadis sempurna. Sahabat sekaligus teman satu kantor Ardi, satu per satu memandang Ardi ialah seorang yang hanya memikirkan urusan bawah perut saja. Mereka memandang Ardi rendah karena sudah tiga kali menikah dan memikirkan pernikahan yang ke empat. Rekan-rekan kerja Ardi takut apabila masyarakat mencap jelek perusahan penerbitan buku islamis mereka, gara-gara konsumen beranggapan bahwa seorang pimpinan redaksi islamis berpoligami sampai empat kali.
Di sela-sela keindahan buku ini, masih terdapat beberapa kekeliruan dalam kata-kata seperti penggunaan kata urine yang tidak dimiringkan. Serta beberapa bahasa gaul. Selain itu terkadang penulis menggunakan bahasa gaul dan bahasa formal untuk satu orang yang sama, sehingga dalam penggambaran tokoh orang tersebut kurang pas.

Desinta ika rezalina
semester II prodi S1 keperawatan
Stikes Icsada Bojonegoro





Judul Novel            : Pelabuhan Terakhir

Pengarang               : Roidah

Tebal Buku             : 159 hal

Penerbit                  : Erlangga, Jakarta

Tahun Terbit           : 2012

Zahra yang tidak dekat dengan sang ayah dan tak begitu mengenal Tuhannya, membuat dia dilema dalam masalah percintaan dan pekerjaan. Dalam novel Pelabuhan Terakhir ini diceritakan bahwa dalam hidup manusia tak akan pernah bisa menghindari takdirnya. Kenyataan ini yang membuat tokoh utama novel ini menyadari akan garis lurus yang tegak antara kekecewaan Zahra pada manusia lain dengan kebutuhannya akan Tuhan. Lalu tanpa diinginkannya, beberapa orang pun berhasil masuk ke dalam kehidupannya dan keluarganya, sehingga mengurai makna tentang apa yang dibutuhkan dari wanita terhadap pria dan begitu juga sebaliknya. Sehingga tokoh utama novel ini memilih diantara tiga pilihan lelaki yang membuat dia begitu bingung dan bimbang.

Novel Pelabuhan Terakhir karya Roidah ini berkisah tentang Zahra. Zahra adalah seorang wanita mandiri dan berkarier sukses, namun selalu gagal dalam masalah percintaan. Zahra hanya dua kali berpacaran seumur hidupnya. Putus dengan Aldo, teman se-SMA hanya karena pertentangan sifat, tapi putus dengan Alvon, teman sejurusan di kampus, karena dia mengkhianati Zahra yang berpacaran dengan wanita lain di belakangnya. Kasus tentang penindasan terhadap wanita yang sering ia tangani turut membuatnya enggan menikah dan cenderung membenci kaum pria. Pemikiran seperti itu tidak ada hubungannya dengan masa lalu, tapi pemikirannya lebih terbentuk karena kisah nyata dari beberapa perempuan yang disakiti lelaki, hingga ia berkesimpulan lelaki memiliki berjejer sifat negatif yang sangat tidak bisa di toleransinya.

Zahra yang terlahir sebagai anak tunggal dalam keluarga malah membuat dirinya semakin tertekan. Akhirnya, ia pun dijodohkan oleh sang ayah dengan seorang pria. Sang ayah yang sudah ingin menimang cucu, dan khawatir dengan usia anaknya tersebut, akhirnya memilihkan jodoh untuknya. Nama Poernomo alias Ipung pun mencuat ke permukaan. Sudah hampir dua minggu nama Ipung dikenalkan sang ayah, ditambah pula tingkat jenuh yang mulai datang dari pekerjaannya sekarang semakin membuat pikirannya kian kacau. Sudah beberapa bulan belakangan Zahra mulai merasa tak betah dengan tugasnya di kantor.Rasa muak terhadap penderitaan kaum perempuan, di mana Zahra dan lembaganya tidak bisa berbuat lebih banyak bagi mereka, sehingga membuat Zahra ingin hengkang saja. Zahra memutuskan mulai melirik dunia kerja baru. Ia mendapat tawaran pekerjaan, masih urusan sosial. Ia diajak bergabung di pendampingan Suku Kubu, Jambi.

Kisah percintaan Zahra pun semakin berwarna ketika dia bekerja di Jambi. Setelah nama Ipung dikenalkan sang ayah, kini muncul nama Sultan, lelaki gagah dan bertanggung jawab yang mampu membuatnya kembali ingat kepada Tuhan dan agama. Sudah lama ia tak pernah ingat kewajibannya sebagai seorang muslim. Waktu kecil ia telah dididik mengerjakan shalat oleh ibu, namun beranjak remaja shalatnya kian bolong, hingga menghilang sama sekali, apalagi sejak ditimpa masalah cinta. Ada juga Laman Senjo, anak sang kepala suku yang lugu dan polos. Dua lelaki ini pun berhasil menumbuhkan kembali citra positif laki-laki di mata Zahra dan mampu menggugah kembali nurani perempuannya. Sementara ketika sang ibu terbaring sakit, Ipung pun tak segan memperlihatkan kepedulian dan perhatian kepada ibunya. Kejadian itu pun semakin membuat hati Zahra bimbang.

Diantara tiga pilihan, karena merasa bersalah kepada ibunya Zahra pun harus mengambil keputusan untuk segera menikah. Ipung yang baru bertemu dengannya di rumah sakit, kian lama membuat Zahra salut dengan sifat Ipung yang peduli dan perhatian kepada keluarganya. Sultan yang telah mengingatkannya kepada Tuhan dan agama pun membuatnya mulai merasakan sesuatu terhadap Sultan dan Laman Senjo, anak sang kepala suku yang lugu dan polos yang pernah dekat dengannya. Di antara tiga pilihan laki-laki ini membuat hati Zahra bimbang. Zahra berpikir kalau ia menikah dengan Laman Senjo apa kata ibunya nanti, karena latar belakangnya yang hidup di Suku Kubu, Jambi dan Zahra pun tidak bisa menerima latar belakang Laman Senjo yang hidup di sana. Lalu ia beranikan diri untuk menyatakan rasa cintanya kepada Sultan. Zahra akan memilih salah satu dari mereka dan menikah dengan pilihannya tersebut.

Kekurangan Novel ini adalah, terlalu banyak kosa kata yang sulit untuk dimengerti bagi para pembaca. Jika pembaca tidak peka, maka pembaca tidak akan mengerti alur cerita di dalam novel tersebut.

Desinta Ika Rezalina
semester II prodi S1 Keperawatan
Stikes Icsada Bojonegoro



Judul Buku      : Cinta Bertabur di Langit Mekkah.
Penulis             : Roidah.
Penerbit           : Erlangga.
Tahun Terbit    : 2009.

    Novel ini diawali dengan pertemuan Radha dan Yusuf di Madinah. Kedua orang tua rada ingin Yusuf dan Radha menjadi suami istri. Meski begitu Radha masih belum yakin bahwa Yusuf akan menjadi suaminya kelak. Tetapi lama kelamaan dengan proses yang indah telah dilalui mereka akhirnya dipersatukan.
Novel ini tidak hanya menampilkan kisah romansa percintaan saja, nemun nuansa islam yang mendalam juga dituangkan dalam novel ini.
    Hal yang menarik dari novel ini adalah tempat kejadian ditempat yang mulia yaitu Madinah, Mekkag dan Mina. Kita akan di bawa kesuasana yang sangat islami dengan tingkat religi yang sangat tinggi. Cerita dari novel ini yaitu Radha adalah seorang gadis yang sedang mengalami konflik batin yang mendalam karena perasaan cintanya kepada Osman selama 14 tahun tidak terbalas. Radha berharap dengan kepergiannya ketanah suci dia dapat melupakan Osman.
    Ketika Radha berada di Madinah, Radha bertemu dengan seorang lelaki yang seiring waktu membantunya dikala Radha kesusahan yang bernama Yusuf. Dia seorang pengusaha sukses asal Jakarta yang telah jatuh banmgkrut. Berkat usaha keras dari Yusuf saat ini Yusuf telah kembali menjadi pengusaha sukses. Radha mengakui bahwa hatinya menyukai Yusuf. Kedua orang tua Radhapun terkesan dengan sikap Yusuf yang selalu menolong rombongan haji asal Indonesia yang kesusahan.
    Ketika di tanah suci pula Radha bertemu kembali dengan Rudi kawan SMA yang dulu pernah menyatakan cinta pada Radha. Sampai saat ini Rudi masih juga menyimpan rasa cinta pada Radha. Bahkan sering bertemu di Mekkah, Rudi kembali menyatakan conta dan mengajak Radha menikah. Walaupun Rada terpesona dengan sosok Rudi sekarang karena rudi terlihat lebih islami, Rada menolak Rudi dengan halus. Rada berdoa semoga Rudi bias menerima jawaban dengan ikhlas dan mendapatkan sosok pengganti Radha yang lebih cocok untuk Rudi.
    Setelah itu muncul sosok Hendar yang selalu mengejar Radha di kampong halaman. Radha tidak menyukai Hendar karena sosok Hendar yang keras kepala, egois, dan beberapa sifat minus lainnya. Puncak konflik dari novel ini adalah ketika Radha akhirrnya dilamar oleh Yusuf, sementara itu Radha dihubungi oleh Osman juga akhirnya mau melamar Radha. Dipinang dua orang yang teramat dikagumi dan dicintainya, berarti akan melukai salah satunya. Menabur duka yang teroreh selama dalam hidup pihak yang tersakiti. Dengan hati yang sudah tidak tahan lagi dan kecamuk pikiran Radha mengangkat telepon dari Osman dan meminta maaf dengan berat hati harus menolak lamaran dari Osman. Radha sudah meyakini Yusuf lah yang sekarang ini bias mencuri hati Radha dan sudah melewati proses lamaran di Mekkah dengan taburan cinta jemaah haji dan gemintang langit Mekkah yang menjadi saksi lamaran Yusuf.
    Romansa cinta islami yang dituangkan menjadi komponen cerita yang menarik dan asyik untuk dibaca. Namun konflik yang detail dan tajam dibahas serta konflik batinnya membuat novel ini sedikit kurang.



Desinta Ika Rezalina.
Semester II prodi S1 kep.
Stikes ICSADA Bojonegoro

           Mereka bukan kartini, tetapi perempuan perkasa, perempuan dengan kegigihan dan kerja keras tanpa pantang lelah. Di jaman, perempuan Diatas Kartini ku kira.
            Ibu lutmi, seorang itu ber anak 1 yang sekolah di SMU. Ibu Lutmi seoramg pengantar bambu, ia harus menghidupi dirinya dan anaknya. Menjadi orang tua tunggal sangatlah sangatlah tidak mudah bagi beliau, ibu Lutmi harus bekerja seorang diri untuk makan sehari-hari dan membayar uang sekolah anaknya. Seorang anak yang bercita-cita tinggi dan amat disayang oleh beliau. Setiap pagi ibu Lutmi mengantar bamboo sesuat pesanan. Untuk tukang sate, tukang pembuat tampah dan lain-lain. Menjelang siang setelah mengantarkan pesanan ibu Lutmi bergegas pergi kekebu untuk mengambil bambu untuk dijual esok hari. Bambu diolah sesuai pesanan. Tak mudah memang pekerjaan ini dikerjakan oleh seorang perempuan, dari awal pemotongan bambu denga pohon yang menjulang tinggi dan bias di bayangkan betapa beratnya bambu tersebut. Kegigihan ibu Lutmi terbayar dengan kedidupannya sebagai orang tua tunggal bisa menghantarkan sang anak ke bangku SMU saat ini.
            Ibu Hana, seorang pengemis penderita kusra yang menghidupi anaknya dan suaminya yang lumpuh. Keterbatasan ibu Hana yang sedang sakit tidak dapat bekerja terlalu berat dan seorang penderita kusta dianggap masyarakat adalah penyakit kutukan. Hal ini memaksa bu Hana menjadi seorang pengemis. Bu Hana menjadi seorang pengemis bukan bermaksud untuk dikasihani karena melihat keadaannya, melainkan sebuah keterpaksaan karena keadaan, yang mau tidak mau bu Hna harus menjalankannya. Terkadang kita melihat profesi bu Hada ini adalah kesemp[atan dalam kesempitan, akan tetapi bu Hana melarang anaknya mengikuti jejaknya. Ibu Hana bercita-cita agar anaknya bisa bersekolah tinggi walaupun dengan keterbatasan ekonomi. Dan dengan keadaan suaminya yang lumpuh bu Hana harus menafkahi anggota keluarganya seorang diri. Ketabahan dalam menghadapi kondisi keluarganya dan penyakitnya, bu Hana menjadi kuat dan kekuatan terletak pada kesuksesan anaknya kelak.
            Ibu Endang, pemulung gelas plastik menghidupi anaknya yang bercita-cita tentara. Satu lagi kisah orang tua tunggal yang harus menghidupi anaknya yang bercita-cita menjagi prajurit Negara yaitu seorang tentara. Pagi buta bu Endang mulai berangkat kerja dan pulang ketika senja tiba. Tak tampak sedikitpun wajah jenuh ketika bekerja, bu Endang begitu bersemangat. Tak tampak wajah lelah ketika dirumah. Ibu Endang berfikir lelah yang dirasa saat bekerja denga menelusuri jalan dan memungut gelas plastik dan disetor ke pengepul tidak seberapa disbanding sukses dan tercapainya cita-cita sang anak kelak dikemudian hari.
            Mereka tak tau lagu ibu kita kartini, tak pernah sekolah sebagaimana kartini mendobraknya. Tetapi yang pasti mereka punya semangat untuk tetap bertahan hidup di jaman ini, jaman yang tak memperbolahkan mereka demi…..ya……demi sesuap nasi dan harga diri anak-anaknya kelak.


Desinta Ika Rezalina.
Semester II prodi S1 Kep.
Stikes ICSADA Bojonegoro


Judul Buku                  : Seniman Kaligrafi Terakhir.
Penulis                         : Yasmine Ghata.
Penerbit                       : Serambi.
Penerjemah                  : Ida Sundari Husen.
Jumlah Halaman          : 206.
Tahun Terbit                : 2004.

            Novel yang bercerita tentang seorang seniman kaligrafi wanita yang bernama Rikkat. Menceritakan perjalanan semasa hidupnya yaitu dari kecil sampai ia meninggal dunia. Kisah yang bercerita seputar dunia kaligrafi, mulai belajar sampai mengajar kaligrafi.
Sebuah cerita di Turki pada masa peralihan dari bentuk kesultanan menjadi Negara demokrasi. Pada masa itu, seniman kaligrafi mulai ditinggalkan karena pada masa itu mulai diperkenalkan huruf seperti yang kita gunakan sekarang yang disebut huruf abjad.
Konflik rumah tangga seorang Rikkat dengan 2 pria yang akhirnya meninggalkannya karena ketidaksukaan dengan profesi Rikkat sebagai seniman kaligrafi.
            Yang menarik dari novel Seniman Kaligrafi Terakhir karya Yasmin Ghata ini adalah menceritakan secara tentang perjalanan seorang Rikkat, perjalanan seorang seniman kaligrafi hingga meninggal dunia. Menceritakan tentang karirnya sebagai seniman kaligrafi yang pertama kali menjadi murid kemudia menjadi seorang pengajar. Karirnya bermula saat Rikkatmemenangkan sebuah lomba di Negara Turki itu. Konflik rumah tangga seorang seniman kalografi ini juga dibahas secara detail dari mulai suami pertama Rikkat adalah seorang dokter gigi yang dinilai Rikkat adalah sesosok orang kejam setiap kali Rikkat mendengar jeritan pasien di sudut rumahnya yang digunakan sebagai tempat praktir Ceri suami Rikkat. Rikkat dan Ceri dikaruniai 1 anak  yaitu Nedim. Suami kedua Rikkat adalah seorang buronan suatu Negara yang awalnya hanya sering kerumah dan menginap dieumah orang tua Rikkat. Hubungan gelap dengan rikkat pada malam itu memaksa mereka harus menikah. Di pernikahan yang kedua ini Rikkat juga dikaruniai 1 anak laki-laki yang diberi nama Nur. Pada konflik rumah tangga dengan suaminya yang kedua ini keluarga Rikkat mengalami krisis ekonomi, begitupun dengan orang tua rikkat yang tinggal ibunya dan adik Rikkat. Dikarenakan sang suami yang kedua ini hanya suka beragumen dan berpidato layaknya pemimpin perang, dikarenakan pada masa itu adalah masa perang antar Negara dan sangat membeci jika orang bekerja. Puncak perceraian rikkat dengan suami keduanya adalah pada saat rikkat sedang melukis  sang suami tiba-tiba muncul dan membuang semuat alat lukis rikkat dan memaksa rikkat berpisah dengan anak keduanya yaitu Nur. Selain konflik rumah tangga Rikkat yang menarik dari buku ini adalah seorang Rokkat seniman kaligrafi ketika sedang melukis dia diatangi arwah pengajarnya dulu yaitu arwal Selim yang meninggal karena bunuh diri.
            Di buku ini tidak ditulis secara detail tentang penulis. Juga tidak diceritakan secara detail mengenai perjalanan awal seorang Rikkat mengapa dia sangat mencintai kaligrafi. Masa remajanya pun tidak diceritakan hanya pada saat kecil dan menikah dengan Ceri suami pertamanya sampai ia meninggal dunia.

Desinta Ika Rezalina.
Semester II prodi S1 Kep.
Stikes Icsada Bojonegoro

Kesenian sandur berasal dari permainan anak-anak. Ada beberapa versi mengenal kata sandur,vdi antaranya dari kata “san” yang berarti selesai panen (isan) dan “dhur” berarti ngendus. Jadi, pementasan sandur ini biasanya di pentaskan pada saat panen raya. Dari sumber lain mengatakan bahwa sundur berasal dari bahasa belanda yaitu “soon” yang berarti anak-anak dan “door” yang berarti meneruskan. Berbagai sumber lain juga menyebutkan bahwa sandur terdiri dari berbagai cerita tersebut dengan sandiwara ngendur, artinya kesenian itu terjadi karena berisi tentang berbagai macam cerita yang tak habis sampai pagi. Kesenian ini kemudian berkembang menjadi produk kesenian yang bertumpuh pada upacara ritual. Awal keberadaannya tidak diketahui namun tidak dapat di peroleh bahwa sandur ada sejak jaman kerajaan yang masih menganut aliran kepercayaan.
Pada sekitar tahun 1960-an kesenian ini mengalami kemajuan, yang sangat pesat, hampir disetiap desa di kecamatan Bojonegoro memiliki kelompok kesenian sandur, kemudian pada tahun 1965 kesenian sandur mengalami kemunduran yang sangat deratis hingga kesenian sandur ini muncul kembali pada tahun 1978 dan baru pada tahun 1993 sandur di pentaskan kembali. Seni pertunjukan sandur dapat di kategorikan sebagai seni pertunjukan tradisional yang berbentuk teater tradisional. Sebagai teater tradisoanal, sandur memiliki ciri-ciri yang sama dengan teater tradisional daerah lainnya yaitu mempunyai sifat yang sederhana dalam penyajiannya sebagai bentuk teater tradisional seni pertunjukan sandur mempunyai unsur cerita (drama), tari, karawitan, dan lain-lain. Saat ini sandur di pentaskan dengan bentuk dan struktur drama yang lebih tertata.

Keberadaan seni pertunjukan sandur.
Kesenian tradisional, khususnya seni pertunjukan rakyat tradisional yang memiliki, hidup dan berkembang dalam masyarakat, sebenarnya mempunyai fungsi penting hal ini terlihat dari dua segi, yaitu dari segi jangkau penyebaran dan fungsi sosialnya.  Dari segi penyebaran seni pertunjukan rakyat memiliki wilayah jangkauan yang meliputi seluruh masyarakat di manapun berada dari segi fungsi sosialnya, data tarik pertunjukan rakyat terletak pada kemampuannya sebagai pembangun solidaritas kelompok kesenian sandur memiliki nilai dan fungsi bagi kehidupan masyarakat yang melakoninya.
Seni pertunjukan sandur berasal dari permainan anak-anak yang kemudian berkembang menjadi kesenian dan juga upacara ritual, sandur adalah sebuah produk budaya masyarakat Bojonegoro, khususnya desa Ledok Kulon. Kehadirannya sebagai bentuk media interaksi dalam norma kehidupan, kesenian ini hadir karena solidaritas masyarakat atas nilai tersebut, dalam organisasi kelompok masyarakat setempat, dalam kehidupan saat ini telah hadir sebuah peradaban baru yang biasanya disebut dengan era transfarmasi, era ini membawa sistem nilai baru dalam masyarakat dengan masuknya aneka barang elektronik yang melengkapi kehidupan masyarakat, produk tersebut memberikan wawasan baru yang datanya tak terkendali, terbih dengan merabahnya stasiun televisi yang operasionalnya cenderung menayangkan acara impor, telah menyebabkan ketidakseimbangaan informasi. Hal ini dapat berakibat buruk terhadap tingkah laku remaja, disadari atau tidak masyarakat Bojonegoro merupakan masyarakat yang cukup selektif, artinya mereka mampu mempertahankan norma dan adat yang berlaku dalam era transflamasi, disamping sebagai media informasi dan hiduran. Sandur berawal dari sebuah permainan anak-anak pertunjukan yang diadakan pada tanah lapang yang fungsi awalnya  adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang dicapai, pemanggilan roh dan perlindungan nenek moyang terhadap kehidupan mereka, merupakan rangkaian maksut diselenggarakannya upacara ritual mereka. Sistem dan nilai-nilai yang di terapkan mengandung mitos norma. Norma dasar  tata laku dalam hubungan kepentingan, nilai tersebut merupakan sebuah warisan pemahaman, sebagimana seharusnya kehidupan orang jawa. Kehidupan masyarakat yang merupakan bentuk kesenian sandur yang bermakna upacara kesuburan, upacara yang rutin dilaksanakan ketika masa panen tiba.kehadiran berbagai macam agama didaerah ini sedikit banyak telah mempengaruhi bentuk kesenian sandur. Karena pada saat itu kesenian dan keadaan sosial masyarakat merupakan alat politik untuk seorang raja baik pada masa Hindu, Budha maupun pada masa Islam.
Sandur bagi masyarakat berfungsi sebagai media penerangan dan pendidikan selain sebagai hiburan secara moral sandur menjadi penyeimbang di era transformasi ini, di era zaman serba cangih ini, penawaran yang di lakukan oleh zaman, dirasakan tidak selalu sesuai dengan kehidupan masyarakat setempat, norma-norma tersebut didapatkan dari kehidupan nilai norma sehingga hukum adat yang tidak tertulis, sejauh ini masyarakat berusaha tidak mengubah bentuk penyajian petunjuk sandur yang merupakan cermin keberhasilan masyarakat atas nilai penyeimbangan dan fungsi kesenian ini dalam kehidupan sehari-hari. Tema cerita yang di angkat adalah tentang kehidupan masyarakat sehari-hari yang nerupakan cermin keadaan realita sosial.pementasan kesenian sandur dimainkan oleh sekitar 20 sampai 25 orang, ke 25 orang tersebut terbagi menjadi perananya masing-masing.
Seni pertunjukan kesenian sandur biasanya dipentaskan ditanah lapang, dibatasi pagar berbentuk bujur sangkar yang biasa disebut blabar janur kuning dan digantungi aneka jajanan  pasar, selain itu juga terdapat ketupat dan lontong ,ketan atau lepet, dua batang bambu ditancapkan, diantara bambu tersebut dipasang tali besar yang menghubungkan kedua bambu, kedua batang bambu beserta talinya tersebut digunakan adegan yang dinamakan adegan kalongking. Itulah tempat yang biasa digunakan untuk pementasan sandur. Tata cahaya dalam pertunjukan kesenian sandur adalah obor, yang biasa diguanakn dalam pertunujakan sandur ini warga menyebutnya obor mrutu sewu. Obor mrutu sewu yang lubang untuk menyalakan apinya terdapat lebih dari tiga lubang, obor mrutu sewu ini terbuat dari bambu, biasanya terbuat dari jenis bambu ori, bambu ori ini memang banyak terdapat di Bojonegoro dan banyak tersebar di daerah perdesaan di seluruh kabupaten Bojonegoro. Obor mrutu sewu ini di pasang  di sekeliling area petunjukan kesenian sandur.
Seperti halnya jenis kesenian tradisional lainnya yang selalu mengunakan sesaji dalam pementasanya. Seperti halnya tayub, ludruk, karawitan dan lain-lain. Demikian jupa kesenian pertunjukan sandur, juga menggunakan sesaji. Ssesaji ini dibuat dengan tujuan agar acara pertunjukan dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Sesaji yang disiapkan antara lain, beras secukupnya, dupa, cikalan (potongan kelapa) yang tengahnya di beri gula merah, dan kembang setama atau sejenis berbagai kembang. Sandur terdiri dari delapan adegan yang terdapat dalam tiga babak, sedangkan pergantian babak selalu di tandai dengan tembang yang di lanturkan oleh panjak hore. Panjak hore adalah bagian dar perani pementaan kesenian sandur yang tugasnya  melantunkan tembang-tembang. Dalam seni pertunjukan sandur tembang berfungsi sebagai pengiring keluar masuknya peran dan pergantian adegan, selain itu tembang juga berfungsi sebagai mantera pamanggilan rooh atau bidadri.
Tembang yang digunakan dalam seni pertunjukan sandur sangat fungsional. Selain sebagai pengiring keluar masuknya pemain dan berakhirnya babak permainan, juga berfungsi sebagai mantera pemanggil rooh halus. Kostum merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam sebuah pertunjukan, begitu juga halnya dengan seni pertunjukan sandur yang menggunakan kostum untuk membedakan karakter peran satu dengan karakter lainnya. Kostum yang digunakan oleh para pemerannya yang mempunyai sifat khusus. Contohnya kostum petak, kostum yang digunakan oleh tokoh peran petak adalah, kuluk, sumping, dan sarjan warna putih, tokoh petak ini menggambarkan masyarakat kelas bawah, yang mamiliki karakter pekerja keras, ulet, lugu, dalam pendiriannya. Kostum tokoh balong, kostum ini memakai kuluk, elar, celana cinde dan pakaian hitam. Balong adalah gambaran masyarakat kelas bawah, yang mempunyai sifat lemah, bodoh dan mudah putus asa. Selanjutnya kostum tokoh kangsil, kostum yang di pakai tangsil adalah jas, dasi. celana panjang dan memakai topi kompeni. Tokoh ini mengambarkan orang yang sudah mapan, kaya, dewasa, bijaksana, dan berwawasan luas. Ada juga tokoh cawik dan germo, tokoh cawik biasanya di perankan oleh seorang wanita. Kostum yang di pakai cawik biasanya adalah kostum seorang penari, tokoh cawik adalah seorang tokoh yang menggambarkan seorang wanita yang berprofesi sebagai sindir atau penyanyi (penari tayub). Sedangkan tokoh yang di perankan sebagai germo, memakai celana komprang hitam, dan iket. Tokoh ini memilikin karakter tua, bijaksana dan merupakan identifikasi seorang pemimpin. Tokoh-tokoh pendukung lainnya seperti panjak kendang, panjak gong, panjak hore, tukang jaran dan pemain seorang kaongking biasanya memakai kostum seperti petani yaitu hanya menggunakan celana komprang warna hitam.
Teks atau naskah kesenian sandur merupakan sebuah cermin kehidupan masyarakat desa Ledok Kulon kabupaten Bojonegoro. begitu juga sebaliknya sistem kehidupan masyarakat yang kolektif menjadi titik tolak dalam penyutradaraan kesenian sandur ini. Awalnya cerita yang di sajikan dalam seni pertunjukan sandur hanya berdasarkan cerit turun temurun dan mitos yang berkembang di daerah ledok kulon tersebut. Penuangan cerita dan  mitologi kedalam kesenian sandur dalam menggunakan naskah tertulis atau masih merupakan ceritan pitutur. Cerita yang tertulis dalam bentuk teks atau naskah pertama kali dibuat pada tahun 1993 saat sandur mengikuti pagelaran yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta. Di dalam naskah ini, tertulis urutan keluar masuknya para tokoh peran dan urutan tembang yang disajikan. Dalam penggarapan naskah sandur, sutradara merupakan kreator. Sutradara berperan juga sebagai koodintor latihan, sekaligus menjadi mediator untuk mengungkapkan naskah dan tujuan misinya. Namun, tidak jarang seorang penulis naskah merupakan seorang sutradara sekaligus pemain. Sutradara dalam sandur ini biasanya berperan sebagai tokoh germo yang berfungsi sebagai dalang yang sekaligus dukun yang mengobati para pemain jaranan yang sedang trans. Untuk penonton itu sendiri terdiri dari semua lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Tingkat apresisi masyarakat terhadap kesenian Sandur ini tergolong baik, ini dapat dilihat dari banyak jumlahnya penonton. Tak jarang para penonton juga ikut menirukan tembang yang dilantunkan oleh panjak hore.
Perubahan Struktur Drama Pada Pertunjukan Sandur di Bojonegoro.
Dari sumber berpendapat bahwa perbandingan bentuk pertunjukan untuk mengetahui koherensi, masing-masing bagian dan unsur-unsurnya dapat dipahami keberadaan struktur bentuknya secara keseluruhan , yakni adanya hubungan timbale balik antara subyek dan bentuknya yang bersifat secara internal dan eksternal dalam menciptakan suatu kesatuan penampilan yang harmonis. Unsure unsure yang dianalisis adalah tema cerita, pemain, pola permainan, tata arias dan busana, property, iringan lagu atau tembang, tempat dan sarana pertunjukan, waktu penyajian dan penonton. Dan berikut ini adalah uraian analisis unsur unsur pertunjukan sandur di Bojonegoro yang telah mengalami moderisasi di bandingakan dengan sandur di kabupaten Tuban.
Tema lakon pertunjukan sandur adalah persoalan kehidupan sehari hari tentang kehidupan masyarakat. Dalam hal ini kehidupan  yang mencangkup hubungan antar masyarakat, antara masyarakat  dengan individu dan antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Lakon sandur bercerita tentang persoalan sosial, konflik, serta peristiwa yang dapat ditemui pada kehidupan masyarakat. Petani misalnya, mencari pekerjaan menggarap lahan pertanian, saling mengejek kekurangan uang. Sebagai contoh lakon petak. Dalam lakon ini diceritakan tentang tokoh petak yang sedang mencari pekerjaan kepada germo, namun germo tidak dapat memenuhi keinginan petak, kemudian menyarankan kepada petak untuk meminta pekerjaan kepada tangsil. Ditempat tangsil juga tidak dapat dipekerjakan yang kemudian dalihkan kepada balong. Yang akhirnya balong member pekerjaan kepada petak. Yakni mencari lahan pertanian untuk bercocok tanam.
Pemain yang pada awalnya seluruh permainan sandurn diperankan oleh laki-laki, namun dalam perkembangannya dapat berubah sesuai dengan kebutuhan ceritanya. Sebagai contoh pertunjukan sandur di Bojonegoro tokoh cawik digantikan oleh peran perempuan, namun tidak untuk sandur di Tuban yang seluruh pemainnya tetap laki-laki hingga saat ini. Pada peran tokoh perempuan yang di mainkan oleh laki-laki pada penokohan ini di anggap sebagai peraturan yang tidak dapat diubah. Selain itu masih dipertahankan aturan bahwa pertunjukan sandur dimainkan oleh anak laki-laki yang belum balig atau belum di khitan. Menurut peratran, anak anak tersebut tidak bisa di khitan sebelum memainkan peran pada pertunjukan sandur sebanyak empat puluh kali. Aturan tersebut sudah menjadi pakem khususnya pada peran petak, cawik, tangsil, dan balong. Empat tokoh inilah yang disebut “sandur” dalam tradisi sandur di Tuban. Maksud dari fenomena ini adalah menjaga kesakralan dalam setiap pertunjukannya. Beberapa pemain yang sudah di sebutkan diatas adalah unsur pemain yang sama-sama terdapat pada masing masing sandur. Selain pemain pemain tersebut, masih ada beberapa pemain yang tidak dimiliki oleh masing masing sandur yang akhirnya menjadi identitas kekhususan masing masing. Misalnya sandur di Bojonegoro terdapat tukang jaran, srati, pandegra dan tukang ngalong. Demikian pula pada sandur di Tuban masih terdapat pelaku yang tidak di temukan di sandur Bojonegoro yakni mantri, nyai, cah angon, kaji nyolong celeng, cino dingklang pados celeng, sopir cikar (bajingan), juru kunci atau tukang tandhuk, ketua rombongan, panjak oncor, tukang kedut dan tukang bancik.
Pola permainan dalam penyajiannya pada sandur di Bojonegoro terdiri dari tiga bagian yaitu: bagian pembuka, bagian isi cerita atau inti cerita, dan bagian akhir atu penutup. Dalam bentuk penyajiannya sandur dilakukan dengan dialog dan menari. Dialog yang di gunakan adalah bahasa Jawa dengan dialeg Bojonegoro. Dialog dilakukan secara berulang ulang sehingga terkesan monoton, yang diungkapkan tidak hanya laku dan suara (dalam bentuk percakapan), tetapi serentak dilakukan juga dengan menyanyikan dan bergerak yang di iringi musikm secara terpadu. Pada sandur di Tuban, pertunjukan terdiri dari empat bagian yakni: bagian pra pertunjukan, pembukaan pertunjukan, adegan inti atau isi cerita, bagian penutup atau akhir, pada bagian penutup atau akhir di iringi dengan gambluh oleh-oleh. Pada tradisinya sandur di Tuban maupun di Bojonegoro keduanya dipentaskan pada malam hari yakni di mulai pukul 21.00 WIB sampai menjelang subuh. Namun pada masa perkembangannya, saat ini sandur dipentaskan dengan durasi 2 sampai 3 jam saja. Faktor-faktir yang membuat durasi sandur mulai berkurang di antaranya adalah kesesuaian cerita dan tujuan yang akan disampaikan, keberadaan penonton juga menjadi perhatian pada sukses atau tidaknya pertunjukan sandur. Kesenian sandur sebagai kesenian rakyat memiliki wujud atau bentuk khas yang berdiri sendiri secara utuh. Bentuk tersebut dapat dinilai melalui analisa unsur-unsur yang terdapat didalamnya.
Potensi lokal bak intan. Harus digali untuk mendapatkannya, harus diasah agar berkilau, menampilkan keindahannya. Betapa beruntungnya kita, karena seluruh pelosok negeri ini dianugerahi banyak potensi yang menunggu untuk ditemukan dan dikilaukan. Begitupun dengan Bojonegoro, kota dimana saya di besarka, kota dimana sekarang saya tinggal dan menempuh pendidikan. Saya yakin Bojonegoro tak luput dari keberuntungan yang dimiliki negeri ini. Jika kita menyebut nama kota kecil ini di kota-kota besar, sering kita mendapat selorohan seperti “Bojonegoro itu dimana sih? Letaknya di daerah mana? Emangnya di peta ada?” miris mendengarnya. Betapa Bojonegoro menjadi kota yang belum dikenal banyak orang. Bojonegoro hanyalah kota kecil yang belum menunjukkan kilaunya.
Sebenarnya banyak sekali potensi yang bisa kita temukan dari Bojonegoro. Misalnya, dari segi ekonomi. Bojonegoro memiliki tambang minyak yang sangat berpotensi untuk meningkatkan perekonomian daerah. Dari segi pariwisata, Bojonegoro memiliki obyek wisata seperti Bendungan Gerak yang terdapat di kecamatan Kalitidu, Waduk Pcal di kecamatan Temayang, Kedung Maor di kecamatan Temayang, dan juga baru-baru ibi Bojonegoro memiliki tempat wisata yang tidak kalah keren dari kota lain, yaitu terdapatnya wisata Negeri Atas Angin yang berada di kecamatan Sekar daerahh kabupaten Bojonegoro bagian selatan, dan masih banyak lagi tempat wisata yang ada di Bojonegoro. Semua menjadikan Bojonegoro kota yang diminati para wisatawan domestik maupun luar untuk berkunjung dan menikmati wisata yang ada di Bojonegoro ini. Dari segi budaya? Jangan salah. Bojonegoro mempunyai segudang tradisi, kisah sejarah, maupun kesenian. Jika kita pernah menengok kebelakang ada sebuah potensi di bidang kesenian yang luput dari pandangan kita. Kesenian apakh itu? Sandur. Mungkin kita asing mendengarnya. Memang sandur pernah berkilau di eranya, namun perlahan meredup, bahkan nyaris musnah. Sandur merupakan perpaduan antara tari dan teater tradisional. Pertunjukan teater dalam sandur dimainkan oleh empat tokoh pakem yang harus ada. Mereka akan memainkan cerita yang berkaitan dengan agrarian seperti bercocok tanam, mencari kerja, atau menikah, biasanya pertunjukan ini diawali sengan tarian jaranan dan di akhiri dengan atraksi kalongking. Sandur berbeda dengan format pertunjukan teater lainnya. Ini yang membuat sandur menjadi unik.
Keunikan sandur tidak hanya itu saj. Pada zaman dahulu, sandur memang seing di pentaskan dalam pesta rakyat atau hajatan. Banyak sekali penikmat sandur pada saat itu, mereka mereka akan berbondong-bondong menontonnya, kebanyakan dari mereka menunggu-nunggu penampilan jaranan dan kalogking. Para penginggat kesenian daerah mulai sedikit demi sedikit menghapus pandangan buruk tentang sandur, mereka berniat untuk mengembalikan citra baik sandur dimata masyarakat, sandur mulai dengan pentaskan kembali dalam kesempatan-kesempatan tertentu. Meskipun ini artinya fungsi sandur menjadi bergeser, tidak lagi sebagai pertunjukan dalam pesta rakyat atau hajatan.sandur bahkan mulai di perkenalkan pada para pelajar dengan masuknya sandur dalam teater-teater sekolah. Para pelajar di ajari bermain sandur lalu mementaskannya. Sandur pun kini mulai di libatkan dalam lomba dan di tampilkan dalam festival kesenian.unsur-unsur mistis dari sandur pun otomatis di hilangkan, juga terdapat improvisasi di sana-sini dalam penyajiannya, misalnya saja ide cerita yang di sesuaikan oleh kebutuhan.
Beruntunglah, dengan adanya usaha-usah menggali dan memperdayakan sandur, masyarakat  Bojonegoro. Kesenian pun membangun dan melestarikan kearifan lokal, selain itu juga menambah keanekaragaman jenis potensi Bojonegoro. Keraagaman jenis potensi lokal memang sangatlah bergantung pada pola pikir dan moral masyarakatnya. Bagaimana mereka memiliki kesadaran untuk mempertahankan potensi yang sudah ada, dan bagaimana mereka mencari cara untuk mengembangkan sebuah potensi bagaimana mestinya. Jika pola pikir dan moral yang baik telah tertanam dalam diri masyarakat Bojonegoro, semestinya mereka akan berlomba-lomba untuk menggali, memoertahankan, dan mengembangkan potensi-potensi lokal dari kota tercintanya ini.
Untuk itu,masyarakat Bojonegoro secara luas harusnya lebih mengenal sandur. Kita patut mempertahankannaya sebagai budaya warisan leluhur, dan kemudian mengembangkannya untuk dapat di lihat dari kanca yang lebih luas lagi. Tinggal sedikit lagi kita menggasanya, kita bisa yakin sandur akan kembali berkilau seperti sedia kala.

Desinta Ika Rezalina
Semestr II prodi S1 Kep.
Stikes Icsada Bojonegoro
        Praktek lapangan, Disasster Nursing Management yang diikuti sekitar 39 mahasiswa kampus ungu (STIKES ICSADA BOJONEGORO) bekerja sama dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) pemkab Bojonegoro sekitar pukul 07.30 WIB di Bendung Gerak ds. Ngringinrejo Kec. Kalitidu Kab. Bojonegoro. (sabtu, 09/06/2016)

         Sejak pagi, peralatan mulai disiapkan, seperti tenda, dapur umum, perahu sar dll. Dalam simulasi ini mahasiswa mendapatkan perannya masing-masing, ada yang menjadi bupati, camat trucuk, tim sar, sampai korban yang harus dievakuasi. Seperti yang dikatakan Bapak Sukirno (Kasi Pencegahan dan Kesiapan Kesiagaan BPBD Kab. Bojonegoro) "Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa STIKES ICSADA Bojonegoro tentang bagaimana cara mengevakuasi korban bencana banjir supaya nantinya mereka dapat terjun dalam membantu poses evakuasi korban bencana (banjir)
           Dimulai dari tim monitor yang memberi kabar ada luberan air Bengawan Solo tepatnya di akaecamatan Trucuk membuat tim Muspika, BPBD dan tim lain siaga. Petugas memulai menempati posisi masing-masing, termasuk mahasiswa yang akan mengevakuasi dengan perahu karet dari bendung gerak.

          "Sebenarnya tak banyak kendala yang kita alami, hanya saja mencocokan waktu mahasiswa dengan BPBD pemkab, serta keterbatasan waktu untuk menghafal prolog yang diberikan mahasiswa." kata dosen S1 keperawatan Mei fitria.
"Kegiatan ini banyak sekali manfaatnya, selain menambah wawasan, kegiatan ini juga membuat kamu mengerti bagaimana teknik penanggulangan bencana banjir (proses evakuasi korban)." kata mahasiswa kampus ungu semester 8 Melida.

Awal dari kerumitan ini saat vina semangatnya bercerita kalau ia baru saja ketemu dengan Farid dilobi kampus kami.
         "Kenapa lama sekani vin?" Rani teman sekelas bertanya.
Saat itu, kami sibuk melototi laptop, mengerjakan tugas keperawatan kardiovaskuler disalah satu kelas yang berada dilantai dua kampus.
          Vina hanya tersenyum simpul.
          "Bukannya kamu mau ngerjain tugas ini? nggak jadi?" Aku nyengir
Vina masih tersenyum simpul. Loncat duduk dikursi sambil menyalakan handphone.
          "Eh kenapa kamu sekarang suka senyum-senyum sendiri, Vin?" Rani sibuk menyelidiki vina. Menatap lekat vina disebelahnya. Kepo ingin tahu urusan orang lain.
          "Memangnya diHP ada yang lucu? cuma lihatin pembaharuan status terbaru" Rani melihat sekilas handphone Vina.
          Vina malah melebarkan senyumnya.
           "Ada apa sih Vin?" Rani penasaran
           "Rahasia" Vina tertawa
           "Ayolah" Rani yang sebal semakin mendekati Vina berharap Vina berhenti melihat handphonenya pindah memperhatikannya.
Vina nyengir menatap Rani lamat-lamat, lantas terlontar sebuah kata pendek, "Farid"
Pelan saja Vina menyebutkan kata itu, berbisik malah, sengaja agar yang mendengar hanya Rani. Tapi, itu cukup menghentikan langkahku yang persis sudah dibawah bingkai pintu kelas. Dan juga tentu saja teman yang lain yang masih sibuk dengan tugasnya.
             "What????? Farid?"
Lupakan tugas bergegas balik kanan.

                                                                      "^"

Huft, kalau mendengarkan baik-baik cerita Vina, aku pikir tidak ada yang spesial. Apanya yang spesial? Vina sedang santai dilobi kampus, saat itu duduk dilobi sudut mata Vina menangkap ada Farid yang melangkah masuk.
               "Eh ada Vina. Siang Vin" Farid tersenyum
Vina mengangguk-angguk kayak orang sawahan. Ditengah teduhnya lobi kampus, kesibukan mahasiswa lain, dan lalu-lalang mahasiswa. Maka jadilah duduk santai bareng Farid. Bareng? enak saja, yang tepat Vina duduk santai bareng mahasiswa lain. Dan itu biasa saja, apanya yang spesial? istimewa? please deh, Farid itu memang gentle, ia ramah kesemua orang, memang kadang cuek, baik hati, disamping itu eh..........tentu saja tinggi, tampan dan pintar.


                                                                    "^"

Tugas keperawatan kardiovaskuler itu sudah kelar sekitar pukul 14.00.
               "Rani!" Ada yang berseru kencang. Persis saat aku mau duduk dibawah AC kelas.
               "Ada apa, sih?" Rani mendekati Vina lebih dulu. Mendekat ke Vina yang sedang duduk menhadap handphonenya.
               "BBM ku dibalas" Wajah Vina memerah bahagia, andai kata bisa diilustrasikan seperti komik-komik remaja, akan nampak bunga warna-warni dan pelangi segala diatas kepalanya. Tuing...Tuing.
               "Dibalas siapa?" Rani ingi tahu, menyeruak melihat layar handphone Vina.
               "Farid"
Aduh! Aku lagi-lagi menepuk jidat. Ternyata kami dipanggil teriak-teriak hanya urusan BBM.
               "Tadi aku BBM nanya soal mata kuliah yang ini, lantas dia blas dengan kata-kata lembut" Vina sumringah.
Selalu menjelaskan menjelaskan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dijekaskan.
               "Lihat kan?" Vina menunjuk BBMnya.
Aku balik kanan, ,menghela nafas, itu biasa saja kali. Farid baru saja terkoneksi dengan Vina, tidak ada hubungannya dengan duduk santai barusan.

                                                                   "^"

Maka, bagi kami kelas segera berubah drastis seminggu terakhir, Vina sibuk atas pertemanan barunya didunia maya dengan Farid. Maksudnya sibuk bercerita, memberi tahu jika ada yang spesial menurutnya. Karena Vina lever ke GRannya yang tingkat nasional, maka itu berarti apa saja spesial baginya.
Sejak dua minggu terakhir ini, Vina sudah ngebet berat sama Farid. Perteamanan didunia maya ini terasa sungguhan benar olehnya, padahl didunia nyata? apanya yang deket? mereka paling cuma ngobrol satu dua kalimat, tidak ada bedanya dengan yang lain.
                 "Nggak semu kali" Aku memotong cerita Vina.
Vina yang sedang semangat cerita soal BBM Farid yang dianggapnya sebagai pertanda "hubungan mereka" menoleh padaku.
                 "Nggak semua apanya? Vina bertanya
                 "Ya nggak semua perhatiannya tentang kamu" aku mengangkat bahu.
                 "Kok kamu tahu? Vina bertany lagi.
                 "Tahu saja" Aku masih menanggapi.
                 "Terus kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu? bukannya kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan Farid? dan  aku yakin sih nggak bakalan Farid ada hubungan dengan kamu" Vina melotot sambil nyengir.
                  "Memang enggak" Aku memastikan
Rani yang duduk ditengah tertawa, melihat muka Vina memerah.
                  "Ayo ngaku saja!" Vina nyengir, tidak percaya
                  "Kamu naksir Farid juga kan? pantas saja setiap kali bercerita wajahmu berubah, tidak terima. Ih cemburu ya? sayangnya kamu bua tipe Farid!" Vina memastikan itu padaku,
                  "Aduh! aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Siapa yang naksir? aku cuma memastikan, biar Vina tidak terlalu GR atas BBM Farid. Hanya itu! siapa pula yang cemburu? anak ini semkin error GRnya".
Rani semakin terpikal, menonton kami bertengakar.

                                                                   "^"

Seminggu berlalu, tetap begitu-begitu saja kelakuan Vina.
                   "Raniiii, siniiii! ada yang baru" Vina persis seperti pembawa acara berita televisi yang sedang live liputan aksi, berseru antusias.
Aku dan rani yang sedang duduk, belajar dikelas lantai dua kampus bersama Vina yang asyik dengan handphonennya menoleh.
                    "Ada apa? Rani bertanya.
                    "Farid ran, Farid" Vina mendesis riang.
                    "Ada apa dengan Farid?"
                    "Farid bilang selamat ulang tahun.
                    "Lantas?" Aku bertanya, sedikit tidak sopan.
                    "Ya tidak ada lantas-lantasnya, aduh dia ngucapin selamat ulang tahun tapi belum jam 12 malam lohh" Vina cengengesan riang, "Farid orang pertama yang bilang, dia pasti sengaja"
                    "Biasa aja kali" aku kembali mengalihkan pandangan kebuku tebal tentang keperawatan. "Mungkin juga karena setting waktu facebook Farid pakai negara Amerika Serikat, jadi waktunya lebih cepat dibanding kita. Notifikasi ada teman berulang tahun muncul lebih cepat. Jadi, dia tidak sengaja ingin jadi orang pertama yang bilang"
                    "Dasar" Vina mengelak
Rani tertawa segera ber shhh "Sudah-sudah jangan bertengkar"
                    "Benar kan? itu memang tidak spesial kan?" Aku menatap protes kepada Rani.
Bagaimana mungkin Rani selalu membesarkan hati Vina? jelas-jelas itu hanya facebook, BBM. Di dunia nyata? bahkan aku yakin Farid tidak akan bilang kalimat itu langsung dikampus.
                    "Kamu naksir Farid kan? ayolah ngaku saja" Vina nyengir, balas berseru tidak sopan.
                    "Bukan itu poinnya" Aku mengelak.
                    "Ayolah ngaku saja" Vina memonyongkan bibirnya. "Kasihan, gebetannya ternyata naksir aku" Vina nyengir.
                    "Siapa yang naksir kamu Vin? Farid? aduh, jangan GR deh" Aku balas memonyongkan bibir.
Rani lupa kalau ia harus melerai, sekarang ia malah tertawa lebar melihat kami saling berseru.
Aku berdiri kesal, berlalu membawa serta buku tebal tentang keperawatan. Dari pada mendengarkan celoteh Vina yang semakin galau semesta.