Latest Posts

Awal dari kerumitan ini saat vina semangatnya bercerita kalau ia baru saja ketemu dengan Farid dilobi kampus kami.
         "Kenapa lama sekani vin?" Rani teman sekelas bertanya.
Saat itu, kami sibuk melototi laptop, mengerjakan tugas keperawatan kardiovaskuler disalah satu kelas yang berada dilantai dua kampus.
          Vina hanya tersenyum simpul.
          "Bukannya kamu mau ngerjain tugas ini? nggak jadi?" Aku nyengir
Vina masih tersenyum simpul. Loncat duduk dikursi sambil menyalakan handphone.
          "Eh kenapa kamu sekarang suka senyum-senyum sendiri, Vin?" Rani sibuk menyelidiki vina. Menatap lekat vina disebelahnya. Kepo ingin tahu urusan orang lain.
          "Memangnya diHP ada yang lucu? cuma lihatin pembaharuan status terbaru" Rani melihat sekilas handphone Vina.
          Vina malah melebarkan senyumnya.
           "Ada apa sih Vin?" Rani penasaran
           "Rahasia" Vina tertawa
           "Ayolah" Rani yang sebal semakin mendekati Vina berharap Vina berhenti melihat handphonenya pindah memperhatikannya.
Vina nyengir menatap Rani lamat-lamat, lantas terlontar sebuah kata pendek, "Farid"
Pelan saja Vina menyebutkan kata itu, berbisik malah, sengaja agar yang mendengar hanya Rani. Tapi, itu cukup menghentikan langkahku yang persis sudah dibawah bingkai pintu kelas. Dan juga tentu saja teman yang lain yang masih sibuk dengan tugasnya.
             "What????? Farid?"
Lupakan tugas bergegas balik kanan.

                                                                      "^"

Huft, kalau mendengarkan baik-baik cerita Vina, aku pikir tidak ada yang spesial. Apanya yang spesial? Vina sedang santai dilobi kampus, saat itu duduk dilobi sudut mata Vina menangkap ada Farid yang melangkah masuk.
               "Eh ada Vina. Siang Vin" Farid tersenyum
Vina mengangguk-angguk kayak orang sawahan. Ditengah teduhnya lobi kampus, kesibukan mahasiswa lain, dan lalu-lalang mahasiswa. Maka jadilah duduk santai bareng Farid. Bareng? enak saja, yang tepat Vina duduk santai bareng mahasiswa lain. Dan itu biasa saja, apanya yang spesial? istimewa? please deh, Farid itu memang gentle, ia ramah kesemua orang, memang kadang cuek, baik hati, disamping itu eh..........tentu saja tinggi, tampan dan pintar.


                                                                    "^"

Tugas keperawatan kardiovaskuler itu sudah kelar sekitar pukul 14.00.
               "Rani!" Ada yang berseru kencang. Persis saat aku mau duduk dibawah AC kelas.
               "Ada apa, sih?" Rani mendekati Vina lebih dulu. Mendekat ke Vina yang sedang duduk menhadap handphonenya.
               "BBM ku dibalas" Wajah Vina memerah bahagia, andai kata bisa diilustrasikan seperti komik-komik remaja, akan nampak bunga warna-warni dan pelangi segala diatas kepalanya. Tuing...Tuing.
               "Dibalas siapa?" Rani ingi tahu, menyeruak melihat layar handphone Vina.
               "Farid"
Aduh! Aku lagi-lagi menepuk jidat. Ternyata kami dipanggil teriak-teriak hanya urusan BBM.
               "Tadi aku BBM nanya soal mata kuliah yang ini, lantas dia blas dengan kata-kata lembut" Vina sumringah.
Selalu menjelaskan menjelaskan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dijekaskan.
               "Lihat kan?" Vina menunjuk BBMnya.
Aku balik kanan, ,menghela nafas, itu biasa saja kali. Farid baru saja terkoneksi dengan Vina, tidak ada hubungannya dengan duduk santai barusan.

                                                                   "^"

Maka, bagi kami kelas segera berubah drastis seminggu terakhir, Vina sibuk atas pertemanan barunya didunia maya dengan Farid. Maksudnya sibuk bercerita, memberi tahu jika ada yang spesial menurutnya. Karena Vina lever ke GRannya yang tingkat nasional, maka itu berarti apa saja spesial baginya.
Sejak dua minggu terakhir ini, Vina sudah ngebet berat sama Farid. Perteamanan didunia maya ini terasa sungguhan benar olehnya, padahl didunia nyata? apanya yang deket? mereka paling cuma ngobrol satu dua kalimat, tidak ada bedanya dengan yang lain.
                 "Nggak semu kali" Aku memotong cerita Vina.
Vina yang sedang semangat cerita soal BBM Farid yang dianggapnya sebagai pertanda "hubungan mereka" menoleh padaku.
                 "Nggak semua apanya? Vina bertanya
                 "Ya nggak semua perhatiannya tentang kamu" aku mengangkat bahu.
                 "Kok kamu tahu? Vina bertany lagi.
                 "Tahu saja" Aku masih menanggapi.
                 "Terus kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu? bukannya kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan Farid? dan  aku yakin sih nggak bakalan Farid ada hubungan dengan kamu" Vina melotot sambil nyengir.
                  "Memang enggak" Aku memastikan
Rani yang duduk ditengah tertawa, melihat muka Vina memerah.
                  "Ayo ngaku saja!" Vina nyengir, tidak percaya
                  "Kamu naksir Farid juga kan? pantas saja setiap kali bercerita wajahmu berubah, tidak terima. Ih cemburu ya? sayangnya kamu bua tipe Farid!" Vina memastikan itu padaku,
                  "Aduh! aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Siapa yang naksir? aku cuma memastikan, biar Vina tidak terlalu GR atas BBM Farid. Hanya itu! siapa pula yang cemburu? anak ini semkin error GRnya".
Rani semakin terpikal, menonton kami bertengakar.

                                                                   "^"

Seminggu berlalu, tetap begitu-begitu saja kelakuan Vina.
                   "Raniiii, siniiii! ada yang baru" Vina persis seperti pembawa acara berita televisi yang sedang live liputan aksi, berseru antusias.
Aku dan rani yang sedang duduk, belajar dikelas lantai dua kampus bersama Vina yang asyik dengan handphonennya menoleh.
                    "Ada apa? Rani bertanya.
                    "Farid ran, Farid" Vina mendesis riang.
                    "Ada apa dengan Farid?"
                    "Farid bilang selamat ulang tahun.
                    "Lantas?" Aku bertanya, sedikit tidak sopan.
                    "Ya tidak ada lantas-lantasnya, aduh dia ngucapin selamat ulang tahun tapi belum jam 12 malam lohh" Vina cengengesan riang, "Farid orang pertama yang bilang, dia pasti sengaja"
                    "Biasa aja kali" aku kembali mengalihkan pandangan kebuku tebal tentang keperawatan. "Mungkin juga karena setting waktu facebook Farid pakai negara Amerika Serikat, jadi waktunya lebih cepat dibanding kita. Notifikasi ada teman berulang tahun muncul lebih cepat. Jadi, dia tidak sengaja ingin jadi orang pertama yang bilang"
                    "Dasar" Vina mengelak
Rani tertawa segera ber shhh "Sudah-sudah jangan bertengkar"
                    "Benar kan? itu memang tidak spesial kan?" Aku menatap protes kepada Rani.
Bagaimana mungkin Rani selalu membesarkan hati Vina? jelas-jelas itu hanya facebook, BBM. Di dunia nyata? bahkan aku yakin Farid tidak akan bilang kalimat itu langsung dikampus.
                    "Kamu naksir Farid kan? ayolah ngaku saja" Vina nyengir, balas berseru tidak sopan.
                    "Bukan itu poinnya" Aku mengelak.
                    "Ayolah ngaku saja" Vina memonyongkan bibirnya. "Kasihan, gebetannya ternyata naksir aku" Vina nyengir.
                    "Siapa yang naksir kamu Vin? Farid? aduh, jangan GR deh" Aku balas memonyongkan bibir.
Rani lupa kalau ia harus melerai, sekarang ia malah tertawa lebar melihat kami saling berseru.
Aku berdiri kesal, berlalu membawa serta buku tebal tentang keperawatan. Dari pada mendengarkan celoteh Vina yang semakin galau semesta.

                 



Odipus hari terakhir guys, huft lelah rasanya tapi kegiatan ini akan selalu terkenang sampai kita lulus nanti :) yukk guys liat kegiatan kami dihari terakhir ini








Selanjutnya kegiatan odipus hari ketiga 







Hari kedua odipus, klik videonya :)






Odipus hari pertama stikes icsda bojonegoro, mari klik videonya dibawah ini




     Sore itu setalah desa diguyur hujan perjanan kami juga diiringi rintikan hujan, seru memang disela-sela sibuknya kuliah dari pagi sampai sore dan dilanjut dengan latihan teater untuk persiapan inagurasi bagi mahasiswa baru, tetapi semangat untuk ngerjakan tugas gak boleh luntur.
sperti itulah kegiatan hari ini disela-sela sibuknya kuliah dan latihan kami menyempatkan untuk mengerjakan tugas ini yaitu "kunjungan tenaga kesehatan didesa"
     Pertama, kelompok kami memilih 2 bidan. bidan didaerah temayang dan bidan didaerah dander.
terbilang sukses untuk kunjungan bidan ditemayang, kami disambut dengan ramah dan diizinkan bertanya seputar bagaimana menjadi bidan, perjuanagan, dan pengabdian yang cukup lama.
untuk yang didander mungkin sedikit ruwet karena kami diharuskan mengikuti prosedur dengan baik ketika akan meliput dan mewawancarai, kelompok kami harus laporan dulu dari kepala puskesmas setempat. berhubung waktu kami sangat mempet kami memutuskan untuk pindah tempat bidan lain.
kelompok kami memutuskan untuk berkunjung dipustu didaerah kalitidu tepatny didesa pilangsari. nah saya disini akan bercerita mengenai bidan ini dan bagaimana suka duka menjadi bidan didesa.
      Ny. Mindi, Amd. Keb namanya. ibu mindi sudah mengabdi selama 25tahun didesa ini, beliau dengan pawakan ramping dan kerut diwajah sudah muncul, maklum ibu mindi sebenarnya sudah menikmati masa pensiunnya untuk saat ini, tetapi berhubung belum ada pengganti ibu mindi tetap masih standby didesa ini.
mungkin kalo baru pertama kali bertemu kita bakalan menyangka kalo ibu mindi ini orangnya jahat, tertutup. iya, dulu menurut cerita dari warga memang ibu mindi orangnya cuek kalo kedatangan pasien, tetapi mungkin itu ada alasan tersendiri untuk ibu mindi.
lebih dari 25tahun ibu mindi hidup didesa pilangsari dan mengabdi disini, meningkatkan kesehatan masyarakat, kesehatan dan gizi bayi dan balita. tak mudah memang dahulu sebelum warga percaya akan seorang tenaga kesehatan, warga memilih untuk berobat keorang yang dipercayai dpt menyembuhkan penyakit, begitu pula dengan ibu hamil dan melahirkan mereka lebih percaya tenaga dukun bayi dari pada bidan yang sudah terlatih.
      Ibu mindi saat ini tinggal sendirian dirumah yang bergabung dengan pustu setelah kurang lebih 3th yang lalu sang suami meninggal dunia karena sakit dan ibu mindi tidak mempunyai seorang anak, nah disinilah kita tahu hebatnya seorang wanita, biasanya banyak yang bilang wanita akan rapuh jika tidak ada seorang pria yang mendampingi. iya memang begitu, angat rapu sekali apalagi ditinggal seorang pria yang amat dicintai, tetapi dikerapuhan ini seorang wanita mampu bertekat kembali, semangat dan ketabahan hati ini lah yang membuat ibu mindi tetap menlanjutkan pengabdiannya meskipun saat ini ibu mindi sebenarnya sudah pensiun.
      Kegiatan ibu mindi setiap harinya ketika pagi hari dinas dipuskesmas pungpungan, ketika sore baru melayani pasien yang datang kepustu, dipagi hari juga menerima pasien sebelum ibu mindi berangakat kepuskesmas, ibu mindi juga melayani panggilan pasien untuk datang kerumahnya.
setiap sebulan sekali ibu mindi rutin mnyelengarakan mungkin bisa disebut program balita sehat, diantaranya posyandu dan membuka pos gizi bagi balita yang bekerja sama dengan kader desa.
pengalaman yang sungguh mengesakan bukan, menjadi tenaga kesehatan memang tidak mudah, tetapi jika kita mencintai dunia ini sesulit apapun kita akan tetap enjoy tetap senang menjalaninya karena memang sudah dunianya.
        Seperti itulah sedikit cerita dari ibu mindi, sangat luar biasa sekali menjadi tenaga kesehatan, jadi untuk kita para mahasiswa kesehatan jangan melewatkan sedikitpun masa-masa belajar kita yang nantinya juga akan menjadi tenaga kesehatan.
semangat selalu untuk teman-teman mahasiswa kesehatan, sedikit pengalaman dari kami untuk kunjungan tenaga kesehatan didesa.
PERAWAT SAHABAT KELUARGA, STIKES ICSADA Profesional With Character :)


PERJUANGAN SUKU JATI


      Hayy guys kami dari mahasiswa kesehatan.
Lucu memang kami yang dari baground kesehatan memainkan sebuah teater kolosal.
Pertama memang ragu bisa ndak ya apakan acara ini akan sukses?
acara ini masih bagian dari kegiatan ODIPUS (Orientasi Dunia Kampus) dikampus kami STIKes ICSADA BOJONEGORO.
       Untuk mahasiswa baru seperti kami wajib untuk mengikutinya. 
Kegiatan lanjutan dari odipus ini tetap dengan tema yang sama yaitu global warming, oleh karena itu panitia mengambil sebuah judul "PERJUANGAN SUKU JATI"
       Sangat seru sekali ceritnya yang dahulu hutan yang rindang karena keogisan seorang mentri yang ini mengelola hutan sendiri padahal suku jati ini lah yang sudah dahulu kala mengelola hutan-hutan itu. Si mentri itu malah menebangi hutan, bukan malah mengelolanya dengan baik. akhirnya terjdilah peperangan antara kerajan dan suku jati. Suku jati telah memenangkan peperangan itu tapi nasi sudah menjadi bubur, hutan-hutan telah ditebangi, suku jati putus asa karna pengabdiannya selama ini dengan kerajaan sudah dihkianati. Suku jati terpuruk terkubur mati. Dan akhirnya kerajaan menyesali akan perbuatannya
      Sekarang sudah sangat jarang sekali, entah itu karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab atau karna kebakaran dan lain sebagainya.
kita sebagai calon tenaga kesehatan cukup prihatin dengan hal itu, tak ayal kalau hutan itu kebakar asap akan menyerang perumahan warga dan akan menimbulkan berbagai penyakit, dan jika pohon dihutan ditebangi bisa menyebabkan banjir dan penykit dan mulai menyerang warga, memang itu tugas kami sebagai tenaga kesehatan, tetapi apakah juga menginginkan sakit? pastinya tidak kan.
Nah dari teater ini lah kita juga memotivasi masyarakat akan pentingnya sebuah pohon.

disebutlah kisah suku jati
yang mengabdi setia pada negeri
tulus ikhlas bela jati diri
rela berkorban untuk tetap lestari

dan ketika bakti dilukai
terciptalah sebuah tragedi
meskipun tak pernah dimauni
suku jati terpuruk terkubu mati

1 POHON SEJUTA KEHIDUPAN
gerakan 1 pohon 1 mahasiswa stikes icsada bojonegoro