Mereka bukan kartini, tetapi perempuan perkasa, perempuan dengan kegigihan dan kerja keras tanpa pantang lelah. Di jaman, perempuan Diatas Kartini ku kira.
Ibu lutmi, seorang itu ber anak 1 yang sekolah di SMU. Ibu Lutmi seoramg pengantar bambu, ia harus menghidupi dirinya dan anaknya. Menjadi orang tua tunggal sangatlah sangatlah tidak mudah bagi beliau, ibu Lutmi harus bekerja seorang diri untuk makan sehari-hari dan membayar uang sekolah anaknya. Seorang anak yang bercita-cita tinggi dan amat disayang oleh beliau. Setiap pagi ibu Lutmi mengantar bamboo sesuat pesanan. Untuk tukang sate, tukang pembuat tampah dan lain-lain. Menjelang siang setelah mengantarkan pesanan ibu Lutmi bergegas pergi kekebu untuk mengambil bambu untuk dijual esok hari. Bambu diolah sesuai pesanan. Tak mudah memang pekerjaan ini dikerjakan oleh seorang perempuan, dari awal pemotongan bambu denga pohon yang menjulang tinggi dan bias di bayangkan betapa beratnya bambu tersebut. Kegigihan ibu Lutmi terbayar dengan kedidupannya sebagai orang tua tunggal bisa menghantarkan sang anak ke bangku SMU saat ini.
Ibu Hana, seorang pengemis penderita kusra yang menghidupi anaknya dan suaminya yang lumpuh. Keterbatasan ibu Hana yang sedang sakit tidak dapat bekerja terlalu berat dan seorang penderita kusta dianggap masyarakat adalah penyakit kutukan. Hal ini memaksa bu Hana menjadi seorang pengemis. Bu Hana menjadi seorang pengemis bukan bermaksud untuk dikasihani karena melihat keadaannya, melainkan sebuah keterpaksaan karena keadaan, yang mau tidak mau bu Hna harus menjalankannya. Terkadang kita melihat profesi bu Hada ini adalah kesemp[atan dalam kesempitan, akan tetapi bu Hana melarang anaknya mengikuti jejaknya. Ibu Hana bercita-cita agar anaknya bisa bersekolah tinggi walaupun dengan keterbatasan ekonomi. Dan dengan keadaan suaminya yang lumpuh bu Hana harus menafkahi anggota keluarganya seorang diri. Ketabahan dalam menghadapi kondisi keluarganya dan penyakitnya, bu Hana menjadi kuat dan kekuatan terletak pada kesuksesan anaknya kelak.
Ibu Endang, pemulung gelas plastik menghidupi anaknya yang bercita-cita tentara. Satu lagi kisah orang tua tunggal yang harus menghidupi anaknya yang bercita-cita menjagi prajurit Negara yaitu seorang tentara. Pagi buta bu Endang mulai berangkat kerja dan pulang ketika senja tiba. Tak tampak sedikitpun wajah jenuh ketika bekerja, bu Endang begitu bersemangat. Tak tampak wajah lelah ketika dirumah. Ibu Endang berfikir lelah yang dirasa saat bekerja denga menelusuri jalan dan memungut gelas plastik dan disetor ke pengepul tidak seberapa disbanding sukses dan tercapainya cita-cita sang anak kelak dikemudian hari.
Mereka tak tau lagu ibu kita kartini, tak pernah sekolah sebagaimana kartini mendobraknya. Tetapi yang pasti mereka punya semangat untuk tetap bertahan hidup di jaman ini, jaman yang tak memperbolahkan mereka demi…..ya……demi sesuap nasi dan harga diri anak-anaknya kelak.
Desinta Ika Rezalina.
Semester II prodi S1 Kep.
Stikes ICSADA Bojonegoro
Judul Buku : Seniman Kaligrafi Terakhir.
Penulis : Yasmine Ghata.
Penerbit : Serambi.
Penerjemah : Ida Sundari Husen.
Jumlah Halaman : 206.
Tahun Terbit : 2004.
Novel yang bercerita tentang seorang seniman kaligrafi wanita yang bernama Rikkat. Menceritakan perjalanan semasa hidupnya yaitu dari kecil sampai ia meninggal dunia. Kisah yang bercerita seputar dunia kaligrafi, mulai belajar sampai mengajar kaligrafi.
Sebuah cerita di Turki pada masa peralihan dari bentuk kesultanan menjadi Negara demokrasi. Pada masa itu, seniman kaligrafi mulai ditinggalkan karena pada masa itu mulai diperkenalkan huruf seperti yang kita gunakan sekarang yang disebut huruf abjad.
Konflik rumah tangga seorang Rikkat dengan 2 pria yang akhirnya meninggalkannya karena ketidaksukaan dengan profesi Rikkat sebagai seniman kaligrafi.
Yang menarik dari novel Seniman Kaligrafi Terakhir karya Yasmin Ghata ini adalah menceritakan secara tentang perjalanan seorang Rikkat, perjalanan seorang seniman kaligrafi hingga meninggal dunia. Menceritakan tentang karirnya sebagai seniman kaligrafi yang pertama kali menjadi murid kemudia menjadi seorang pengajar. Karirnya bermula saat Rikkatmemenangkan sebuah lomba di Negara Turki itu. Konflik rumah tangga seorang seniman kalografi ini juga dibahas secara detail dari mulai suami pertama Rikkat adalah seorang dokter gigi yang dinilai Rikkat adalah sesosok orang kejam setiap kali Rikkat mendengar jeritan pasien di sudut rumahnya yang digunakan sebagai tempat praktir Ceri suami Rikkat. Rikkat dan Ceri dikaruniai 1 anak yaitu Nedim. Suami kedua Rikkat adalah seorang buronan suatu Negara yang awalnya hanya sering kerumah dan menginap dieumah orang tua Rikkat. Hubungan gelap dengan rikkat pada malam itu memaksa mereka harus menikah. Di pernikahan yang kedua ini Rikkat juga dikaruniai 1 anak laki-laki yang diberi nama Nur. Pada konflik rumah tangga dengan suaminya yang kedua ini keluarga Rikkat mengalami krisis ekonomi, begitupun dengan orang tua rikkat yang tinggal ibunya dan adik Rikkat. Dikarenakan sang suami yang kedua ini hanya suka beragumen dan berpidato layaknya pemimpin perang, dikarenakan pada masa itu adalah masa perang antar Negara dan sangat membeci jika orang bekerja. Puncak perceraian rikkat dengan suami keduanya adalah pada saat rikkat sedang melukis sang suami tiba-tiba muncul dan membuang semuat alat lukis rikkat dan memaksa rikkat berpisah dengan anak keduanya yaitu Nur. Selain konflik rumah tangga Rikkat yang menarik dari buku ini adalah seorang Rokkat seniman kaligrafi ketika sedang melukis dia diatangi arwah pengajarnya dulu yaitu arwal Selim yang meninggal karena bunuh diri.
Di buku ini tidak ditulis secara detail tentang penulis. Juga tidak diceritakan secara detail mengenai perjalanan awal seorang Rikkat mengapa dia sangat mencintai kaligrafi. Masa remajanya pun tidak diceritakan hanya pada saat kecil dan menikah dengan Ceri suami pertamanya sampai ia meninggal dunia.
Desinta Ika Rezalina.
Semester II prodi S1 Kep.
Stikes Icsada Bojonegoro
Kesenian sandur berasal dari
permainan anak-anak. Ada beberapa versi mengenal kata sandur,vdi antaranya dari
kata “san” yang berarti selesai panen (isan) dan “dhur” berarti ngendus. Jadi,
pementasan sandur ini biasanya di pentaskan pada saat panen raya. Dari sumber
lain mengatakan bahwa sundur berasal dari bahasa belanda yaitu “soon” yang
berarti anak-anak dan “door” yang berarti meneruskan. Berbagai sumber lain juga
menyebutkan bahwa sandur terdiri dari berbagai cerita tersebut dengan sandiwara
ngendur, artinya kesenian itu terjadi karena berisi tentang berbagai macam
cerita yang tak habis sampai pagi. Kesenian ini kemudian berkembang menjadi
produk kesenian yang bertumpuh pada upacara ritual. Awal keberadaannya tidak
diketahui namun tidak dapat di peroleh bahwa sandur ada sejak jaman kerajaan
yang masih menganut aliran kepercayaan.
Desinta Ika Rezalina
Pada sekitar
tahun 1960-an kesenian ini mengalami kemajuan, yang sangat pesat, hampir
disetiap desa di kecamatan Bojonegoro memiliki kelompok kesenian sandur,
kemudian pada tahun 1965 kesenian sandur mengalami kemunduran yang sangat
deratis hingga kesenian sandur ini muncul kembali pada tahun 1978 dan baru pada
tahun 1993 sandur di pentaskan kembali. Seni pertunjukan sandur dapat di
kategorikan sebagai seni pertunjukan tradisional yang berbentuk teater
tradisional. Sebagai teater tradisoanal, sandur memiliki ciri-ciri yang sama
dengan teater tradisional daerah lainnya yaitu mempunyai sifat yang sederhana
dalam penyajiannya sebagai bentuk teater tradisional seni pertunjukan sandur
mempunyai unsur cerita (drama), tari, karawitan, dan lain-lain. Saat ini sandur
di pentaskan dengan bentuk dan struktur drama yang lebih tertata.
Keberadaan
seni pertunjukan sandur.
Kesenian
tradisional, khususnya seni pertunjukan rakyat tradisional yang memiliki, hidup
dan berkembang dalam masyarakat, sebenarnya mempunyai fungsi penting hal ini
terlihat dari dua segi, yaitu dari segi jangkau penyebaran dan fungsi sosialnya.
Dari segi penyebaran seni pertunjukan rakyat memiliki wilayah jangkauan yang
meliputi seluruh masyarakat di manapun berada dari segi fungsi sosialnya, data
tarik pertunjukan rakyat terletak pada kemampuannya sebagai pembangun
solidaritas kelompok kesenian sandur memiliki nilai dan fungsi bagi kehidupan
masyarakat yang melakoninya.
Seni
pertunjukan sandur berasal dari permainan anak-anak yang kemudian berkembang
menjadi kesenian dan juga upacara ritual, sandur adalah sebuah produk budaya
masyarakat Bojonegoro, khususnya desa Ledok Kulon. Kehadirannya sebagai bentuk
media interaksi dalam norma kehidupan, kesenian ini hadir karena solidaritas
masyarakat atas nilai tersebut, dalam organisasi kelompok masyarakat setempat,
dalam kehidupan saat ini telah hadir sebuah peradaban baru yang biasanya
disebut dengan era transfarmasi, era ini membawa sistem nilai baru dalam
masyarakat dengan masuknya aneka barang elektronik yang melengkapi kehidupan
masyarakat, produk tersebut memberikan wawasan baru yang datanya tak
terkendali, terbih dengan merabahnya stasiun televisi yang operasionalnya
cenderung menayangkan acara impor, telah menyebabkan ketidakseimbangaan
informasi. Hal ini dapat berakibat buruk terhadap tingkah laku remaja, disadari
atau tidak masyarakat Bojonegoro merupakan masyarakat yang cukup selektif,
artinya mereka mampu mempertahankan norma dan adat yang berlaku dalam era
transflamasi, disamping sebagai media informasi dan hiduran. Sandur berawal
dari sebuah permainan anak-anak pertunjukan yang diadakan pada tanah lapang
yang fungsi awalnya adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen
yang dicapai, pemanggilan roh dan perlindungan nenek moyang terhadap kehidupan
mereka, merupakan rangkaian maksut diselenggarakannya upacara ritual mereka.
Sistem dan nilai-nilai yang di terapkan mengandung mitos norma. Norma dasar
tata laku dalam hubungan kepentingan, nilai tersebut merupakan sebuah warisan
pemahaman, sebagimana seharusnya kehidupan orang jawa. Kehidupan masyarakat
yang merupakan bentuk kesenian sandur yang bermakna upacara kesuburan, upacara
yang rutin dilaksanakan ketika masa panen tiba.kehadiran berbagai macam agama
didaerah ini sedikit banyak telah mempengaruhi bentuk kesenian sandur. Karena
pada saat itu kesenian dan keadaan sosial masyarakat merupakan alat politik
untuk seorang raja baik pada masa Hindu, Budha maupun pada masa Islam.
Sandur bagi
masyarakat berfungsi sebagai media penerangan dan pendidikan selain sebagai
hiburan secara moral sandur menjadi penyeimbang di era transformasi ini, di era
zaman serba cangih ini, penawaran yang di lakukan oleh zaman, dirasakan tidak
selalu sesuai dengan kehidupan masyarakat setempat, norma-norma tersebut
didapatkan dari kehidupan nilai norma sehingga hukum adat yang tidak tertulis,
sejauh ini masyarakat berusaha tidak mengubah bentuk penyajian petunjuk sandur
yang merupakan cermin keberhasilan masyarakat atas nilai penyeimbangan dan
fungsi kesenian ini dalam kehidupan sehari-hari. Tema cerita yang di angkat
adalah tentang kehidupan masyarakat sehari-hari yang nerupakan cermin keadaan
realita sosial.pementasan kesenian sandur dimainkan oleh sekitar 20 sampai 25
orang, ke 25 orang tersebut terbagi menjadi perananya masing-masing.
Seni
pertunjukan kesenian sandur biasanya dipentaskan ditanah lapang, dibatasi pagar
berbentuk bujur sangkar yang biasa disebut blabar janur kuning dan digantungi
aneka jajanan pasar, selain itu juga terdapat ketupat dan lontong ,ketan
atau lepet, dua batang bambu ditancapkan, diantara bambu tersebut dipasang tali
besar yang menghubungkan kedua bambu, kedua batang bambu beserta talinya
tersebut digunakan adegan yang dinamakan adegan kalongking. Itulah tempat yang
biasa digunakan untuk pementasan sandur. Tata cahaya dalam pertunjukan kesenian
sandur adalah obor, yang biasa diguanakn dalam pertunujakan sandur ini warga
menyebutnya obor mrutu sewu. Obor mrutu sewu yang lubang untuk menyalakan
apinya terdapat lebih dari tiga lubang, obor mrutu sewu ini terbuat dari bambu,
biasanya terbuat dari jenis bambu ori, bambu ori ini memang banyak terdapat di
Bojonegoro dan banyak tersebar di daerah perdesaan di seluruh kabupaten
Bojonegoro. Obor mrutu sewu ini di pasang di sekeliling area petunjukan
kesenian sandur.
Seperti
halnya jenis kesenian tradisional lainnya yang selalu mengunakan sesaji dalam
pementasanya. Seperti halnya tayub, ludruk, karawitan dan lain-lain. Demikian
jupa kesenian pertunjukan sandur, juga menggunakan sesaji. Ssesaji ini dibuat
dengan tujuan agar acara pertunjukan dapat berjalan dengan lancar dan sukses.
Sesaji yang disiapkan antara lain, beras secukupnya, dupa, cikalan (potongan
kelapa) yang tengahnya di beri gula merah, dan kembang setama atau sejenis
berbagai kembang. Sandur terdiri dari delapan adegan yang terdapat dalam tiga
babak, sedangkan pergantian babak selalu di tandai dengan tembang yang di
lanturkan oleh panjak hore. Panjak hore adalah bagian dar perani pementaan
kesenian sandur yang tugasnya melantunkan tembang-tembang. Dalam seni
pertunjukan sandur tembang berfungsi sebagai pengiring keluar masuknya peran
dan pergantian adegan, selain itu tembang juga berfungsi sebagai mantera
pamanggilan rooh atau bidadri.
Tembang yang
digunakan dalam seni pertunjukan sandur sangat fungsional. Selain sebagai
pengiring keluar masuknya pemain dan berakhirnya babak permainan, juga
berfungsi sebagai mantera pemanggil rooh halus. Kostum merupakan salah satu
bagian yang sangat penting dalam sebuah pertunjukan, begitu juga halnya dengan
seni pertunjukan sandur yang menggunakan kostum untuk membedakan karakter peran
satu dengan karakter lainnya. Kostum yang digunakan oleh para pemerannya yang
mempunyai sifat khusus. Contohnya kostum petak, kostum yang digunakan oleh
tokoh peran petak adalah, kuluk, sumping, dan sarjan warna putih, tokoh petak
ini menggambarkan masyarakat kelas bawah, yang mamiliki karakter pekerja keras,
ulet, lugu, dalam pendiriannya. Kostum tokoh balong, kostum ini memakai kuluk,
elar, celana cinde dan pakaian hitam. Balong adalah gambaran masyarakat kelas
bawah, yang mempunyai sifat lemah, bodoh dan mudah putus asa. Selanjutnya
kostum tokoh kangsil, kostum yang di pakai tangsil adalah jas, dasi. celana
panjang dan memakai topi kompeni. Tokoh ini mengambarkan orang yang sudah
mapan, kaya, dewasa, bijaksana, dan berwawasan luas. Ada juga tokoh cawik dan
germo, tokoh cawik biasanya di perankan oleh seorang wanita. Kostum yang di
pakai cawik biasanya adalah kostum seorang penari, tokoh cawik adalah seorang
tokoh yang menggambarkan seorang wanita yang berprofesi sebagai sindir atau
penyanyi (penari tayub). Sedangkan tokoh yang di perankan sebagai germo,
memakai celana komprang hitam, dan iket. Tokoh ini memilikin karakter tua,
bijaksana dan merupakan identifikasi seorang pemimpin. Tokoh-tokoh pendukung
lainnya seperti panjak kendang, panjak gong, panjak hore, tukang jaran dan
pemain seorang kaongking biasanya memakai kostum seperti petani yaitu hanya
menggunakan celana komprang warna hitam.
Teks atau
naskah kesenian sandur merupakan sebuah cermin kehidupan masyarakat desa Ledok
Kulon kabupaten Bojonegoro. begitu juga sebaliknya sistem kehidupan masyarakat
yang kolektif menjadi titik tolak dalam penyutradaraan kesenian sandur ini.
Awalnya cerita yang di sajikan dalam seni pertunjukan sandur hanya berdasarkan
cerit turun temurun dan mitos yang berkembang di daerah ledok kulon tersebut.
Penuangan cerita dan mitologi kedalam kesenian sandur dalam menggunakan
naskah tertulis atau masih merupakan ceritan pitutur. Cerita yang tertulis
dalam bentuk teks atau naskah pertama kali dibuat pada tahun 1993 saat sandur
mengikuti pagelaran yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah di
Jakarta. Di dalam naskah ini, tertulis urutan keluar masuknya para tokoh peran
dan urutan tembang yang disajikan. Dalam penggarapan naskah sandur, sutradara
merupakan kreator. Sutradara berperan juga sebagai koodintor latihan, sekaligus
menjadi mediator untuk mengungkapkan naskah dan tujuan misinya. Namun, tidak
jarang seorang penulis naskah merupakan seorang sutradara sekaligus pemain.
Sutradara dalam sandur ini biasanya berperan sebagai tokoh germo yang berfungsi
sebagai dalang yang sekaligus dukun yang mengobati para pemain jaranan yang
sedang trans. Untuk penonton itu sendiri terdiri dari semua lapisan masyarakat,
mulai dari anak-anak sampai orang tua. Tingkat apresisi masyarakat terhadap
kesenian Sandur ini tergolong baik, ini dapat dilihat dari banyak jumlahnya
penonton. Tak jarang para penonton juga ikut menirukan tembang yang dilantunkan
oleh panjak hore.
Perubahan
Struktur Drama Pada Pertunjukan Sandur di Bojonegoro.
Dari sumber
berpendapat bahwa perbandingan bentuk pertunjukan untuk mengetahui koherensi,
masing-masing bagian dan unsur-unsurnya dapat dipahami keberadaan struktur
bentuknya secara keseluruhan , yakni adanya hubungan timbale balik antara
subyek dan bentuknya yang bersifat secara internal dan eksternal dalam
menciptakan suatu kesatuan penampilan yang harmonis. Unsure unsure yang
dianalisis adalah tema cerita, pemain, pola permainan, tata arias dan busana,
property, iringan lagu atau tembang, tempat dan sarana pertunjukan, waktu penyajian
dan penonton. Dan berikut ini adalah uraian analisis unsur unsur pertunjukan
sandur di Bojonegoro yang telah mengalami moderisasi di bandingakan dengan
sandur di kabupaten Tuban.
Tema lakon
pertunjukan sandur adalah persoalan kehidupan sehari hari tentang kehidupan
masyarakat. Dalam hal ini kehidupan yang mencangkup hubungan antar
masyarakat, antara masyarakat dengan individu dan antar peristiwa yang
terjadi dalam batin seseorang. Lakon sandur bercerita tentang persoalan sosial,
konflik, serta peristiwa yang dapat ditemui pada kehidupan masyarakat. Petani
misalnya, mencari pekerjaan menggarap lahan pertanian, saling mengejek
kekurangan uang. Sebagai contoh lakon petak. Dalam lakon ini diceritakan
tentang tokoh petak yang sedang mencari pekerjaan kepada germo, namun germo
tidak dapat memenuhi keinginan petak, kemudian menyarankan kepada petak untuk
meminta pekerjaan kepada tangsil. Ditempat tangsil juga tidak dapat
dipekerjakan yang kemudian dalihkan kepada balong. Yang akhirnya balong member
pekerjaan kepada petak. Yakni mencari lahan pertanian untuk bercocok tanam.
Pemain yang
pada awalnya seluruh permainan sandurn diperankan oleh laki-laki, namun dalam
perkembangannya dapat berubah sesuai dengan kebutuhan ceritanya. Sebagai contoh
pertunjukan sandur di Bojonegoro tokoh cawik digantikan oleh peran perempuan,
namun tidak untuk sandur di Tuban yang seluruh pemainnya tetap laki-laki hingga
saat ini. Pada peran tokoh perempuan yang di mainkan oleh laki-laki pada
penokohan ini di anggap sebagai peraturan yang tidak dapat diubah. Selain itu
masih dipertahankan aturan bahwa pertunjukan sandur dimainkan oleh anak
laki-laki yang belum balig atau belum di khitan. Menurut peratran, anak anak
tersebut tidak bisa di khitan sebelum memainkan peran pada pertunjukan sandur
sebanyak empat puluh kali. Aturan tersebut sudah menjadi pakem khususnya pada
peran petak, cawik, tangsil, dan balong. Empat tokoh inilah yang disebut
“sandur” dalam tradisi sandur di Tuban. Maksud dari fenomena ini adalah menjaga
kesakralan dalam setiap pertunjukannya. Beberapa pemain yang sudah di sebutkan
diatas adalah unsur pemain yang sama-sama terdapat pada masing masing sandur.
Selain pemain pemain tersebut, masih ada beberapa pemain yang tidak dimiliki
oleh masing masing sandur yang akhirnya menjadi identitas kekhususan masing
masing. Misalnya sandur di Bojonegoro terdapat tukang jaran, srati, pandegra
dan tukang ngalong. Demikian pula pada sandur di Tuban masih terdapat pelaku
yang tidak di temukan di sandur Bojonegoro yakni mantri, nyai, cah angon, kaji
nyolong celeng, cino dingklang pados celeng, sopir cikar (bajingan), juru kunci
atau tukang tandhuk, ketua rombongan, panjak oncor, tukang kedut dan tukang
bancik.
Pola
permainan dalam penyajiannya pada sandur di Bojonegoro terdiri dari tiga bagian
yaitu: bagian pembuka, bagian isi cerita atau inti cerita, dan bagian akhir atu
penutup. Dalam bentuk penyajiannya sandur dilakukan dengan dialog dan menari.
Dialog yang di gunakan adalah bahasa Jawa dengan dialeg Bojonegoro. Dialog
dilakukan secara berulang ulang sehingga terkesan monoton, yang diungkapkan
tidak hanya laku dan suara (dalam bentuk percakapan), tetapi serentak dilakukan
juga dengan menyanyikan dan bergerak yang di iringi musikm secara terpadu. Pada
sandur di Tuban, pertunjukan terdiri dari empat bagian yakni: bagian pra
pertunjukan, pembukaan pertunjukan, adegan inti atau isi cerita, bagian penutup
atau akhir, pada bagian penutup atau akhir di iringi dengan gambluh oleh-oleh.
Pada tradisinya sandur di Tuban maupun di Bojonegoro keduanya dipentaskan pada
malam hari yakni di mulai pukul 21.00 WIB sampai menjelang subuh. Namun pada
masa perkembangannya, saat ini sandur dipentaskan dengan durasi 2 sampai 3 jam
saja. Faktor-faktir yang membuat durasi sandur mulai berkurang di antaranya adalah
kesesuaian cerita dan tujuan yang akan disampaikan, keberadaan penonton juga
menjadi perhatian pada sukses atau tidaknya pertunjukan sandur. Kesenian sandur
sebagai kesenian rakyat memiliki wujud atau bentuk khas yang berdiri sendiri
secara utuh. Bentuk tersebut dapat dinilai melalui analisa unsur-unsur yang
terdapat didalamnya.
Potensi
lokal bak intan. Harus digali untuk mendapatkannya, harus diasah agar berkilau,
menampilkan keindahannya. Betapa beruntungnya kita, karena seluruh pelosok
negeri ini dianugerahi banyak potensi yang menunggu untuk ditemukan dan
dikilaukan. Begitupun dengan Bojonegoro, kota dimana saya di besarka, kota
dimana sekarang saya tinggal dan menempuh pendidikan. Saya yakin Bojonegoro tak
luput dari keberuntungan yang dimiliki negeri ini. Jika kita menyebut nama kota
kecil ini di kota-kota besar, sering kita mendapat selorohan seperti
“Bojonegoro itu dimana sih? Letaknya di daerah mana? Emangnya di peta ada?”
miris mendengarnya. Betapa Bojonegoro menjadi kota yang belum dikenal banyak
orang. Bojonegoro hanyalah kota kecil yang belum menunjukkan kilaunya.
Sebenarnya
banyak sekali potensi yang bisa kita temukan dari Bojonegoro. Misalnya, dari
segi ekonomi. Bojonegoro memiliki tambang minyak yang sangat berpotensi untuk
meningkatkan perekonomian daerah. Dari segi pariwisata, Bojonegoro memiliki
obyek wisata seperti Bendungan Gerak yang terdapat di kecamatan Kalitidu, Waduk
Pcal di kecamatan Temayang, Kedung Maor di kecamatan Temayang, dan juga
baru-baru ibi Bojonegoro memiliki tempat wisata yang tidak kalah keren dari
kota lain, yaitu terdapatnya wisata Negeri Atas Angin yang berada di kecamatan
Sekar daerahh kabupaten Bojonegoro bagian selatan, dan masih banyak lagi tempat
wisata yang ada di Bojonegoro. Semua menjadikan Bojonegoro kota yang diminati
para wisatawan domestik maupun luar untuk berkunjung dan menikmati wisata yang
ada di Bojonegoro ini. Dari segi budaya? Jangan salah. Bojonegoro mempunyai
segudang tradisi, kisah sejarah, maupun kesenian. Jika kita pernah menengok
kebelakang ada sebuah potensi di bidang kesenian yang luput dari pandangan
kita. Kesenian apakh itu? Sandur. Mungkin kita asing mendengarnya. Memang
sandur pernah berkilau di eranya, namun perlahan meredup, bahkan nyaris musnah.
Sandur merupakan perpaduan antara tari dan teater tradisional. Pertunjukan
teater dalam sandur dimainkan oleh empat tokoh pakem yang harus ada. Mereka
akan memainkan cerita yang berkaitan dengan agrarian seperti bercocok tanam,
mencari kerja, atau menikah, biasanya pertunjukan ini diawali sengan tarian
jaranan dan di akhiri dengan atraksi kalongking. Sandur berbeda dengan format
pertunjukan teater lainnya. Ini yang membuat sandur menjadi unik.
Keunikan
sandur tidak hanya itu saj. Pada zaman dahulu, sandur memang seing di pentaskan
dalam pesta rakyat atau hajatan. Banyak sekali penikmat sandur pada saat itu,
mereka mereka akan berbondong-bondong menontonnya, kebanyakan dari mereka
menunggu-nunggu penampilan jaranan dan kalogking. Para penginggat kesenian
daerah mulai sedikit demi sedikit menghapus pandangan buruk tentang sandur,
mereka berniat untuk mengembalikan citra baik sandur dimata masyarakat, sandur
mulai dengan pentaskan kembali dalam kesempatan-kesempatan tertentu. Meskipun
ini artinya fungsi sandur menjadi bergeser, tidak lagi sebagai pertunjukan
dalam pesta rakyat atau hajatan.sandur bahkan mulai di perkenalkan pada para
pelajar dengan masuknya sandur dalam teater-teater sekolah. Para pelajar di
ajari bermain sandur lalu mementaskannya. Sandur pun kini mulai di libatkan
dalam lomba dan di tampilkan dalam festival kesenian.unsur-unsur mistis dari
sandur pun otomatis di hilangkan, juga terdapat improvisasi di sana-sini dalam
penyajiannya, misalnya saja ide cerita yang di sesuaikan oleh kebutuhan.
Beruntunglah,
dengan adanya usaha-usah menggali dan memperdayakan sandur, masyarakat Bojonegoro.
Kesenian pun membangun dan melestarikan kearifan lokal, selain itu juga
menambah keanekaragaman jenis potensi Bojonegoro. Keraagaman jenis potensi
lokal memang sangatlah bergantung pada pola pikir dan moral masyarakatnya.
Bagaimana mereka memiliki kesadaran untuk mempertahankan potensi yang sudah
ada, dan bagaimana mereka mencari cara untuk mengembangkan sebuah potensi
bagaimana mestinya. Jika pola pikir dan moral yang baik telah tertanam dalam
diri masyarakat Bojonegoro, semestinya mereka akan berlomba-lomba untuk
menggali, memoertahankan, dan mengembangkan potensi-potensi lokal dari kota
tercintanya ini.
Untuk
itu,masyarakat Bojonegoro secara luas harusnya lebih mengenal sandur. Kita
patut mempertahankannaya sebagai budaya warisan leluhur, dan kemudian
mengembangkannya untuk dapat di lihat dari kanca yang lebih luas lagi. Tinggal
sedikit lagi kita menggasanya, kita bisa yakin sandur akan kembali berkilau
seperti sedia kala.
Semestr II prodi S1 Kep.
Stikes Icsada Bojonegoro
Praktek lapangan, Disasster Nursing Management yang diikuti sekitar 39 mahasiswa kampus ungu (STIKES ICSADA BOJONEGORO) bekerja sama dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) pemkab Bojonegoro sekitar pukul 07.30 WIB di Bendung Gerak ds. Ngringinrejo Kec. Kalitidu Kab. Bojonegoro. (sabtu, 09/06/2016)
Sejak pagi, peralatan mulai disiapkan, seperti tenda, dapur umum, perahu sar dll. Dalam simulasi ini mahasiswa mendapatkan perannya masing-masing, ada yang menjadi bupati, camat trucuk, tim sar, sampai korban yang harus dievakuasi. Seperti yang dikatakan Bapak Sukirno (Kasi Pencegahan dan Kesiapan Kesiagaan BPBD Kab. Bojonegoro) "Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa STIKES ICSADA Bojonegoro tentang bagaimana cara mengevakuasi korban bencana banjir supaya nantinya mereka dapat terjun dalam membantu poses evakuasi korban bencana (banjir)
Dimulai dari tim monitor yang memberi kabar ada luberan air Bengawan Solo tepatnya di akaecamatan Trucuk membuat tim Muspika, BPBD dan tim lain siaga. Petugas memulai menempati posisi masing-masing, termasuk mahasiswa yang akan mengevakuasi dengan perahu karet dari bendung gerak.
"Sebenarnya tak banyak kendala yang kita alami, hanya saja mencocokan waktu mahasiswa dengan BPBD pemkab, serta keterbatasan waktu untuk menghafal prolog yang diberikan mahasiswa." kata dosen S1 keperawatan Mei fitria.
"Kegiatan ini banyak sekali manfaatnya, selain menambah wawasan, kegiatan ini juga membuat kamu mengerti bagaimana teknik penanggulangan bencana banjir (proses evakuasi korban)." kata mahasiswa kampus ungu semester 8 Melida.
"Kenapa lama sekani vin?" Rani teman sekelas bertanya.
Saat itu, kami sibuk melototi laptop, mengerjakan tugas keperawatan kardiovaskuler disalah satu kelas yang berada dilantai dua kampus.
Vina hanya tersenyum simpul.
"Bukannya kamu mau ngerjain tugas ini? nggak jadi?" Aku nyengir
Vina masih tersenyum simpul. Loncat duduk dikursi sambil menyalakan handphone.
"Eh kenapa kamu sekarang suka senyum-senyum sendiri, Vin?" Rani sibuk menyelidiki vina. Menatap lekat vina disebelahnya. Kepo ingin tahu urusan orang lain.
"Memangnya diHP ada yang lucu? cuma lihatin pembaharuan status terbaru" Rani melihat sekilas handphone Vina.
Vina malah melebarkan senyumnya.
"Ada apa sih Vin?" Rani penasaran
"Rahasia" Vina tertawa
"Ayolah" Rani yang sebal semakin mendekati Vina berharap Vina berhenti melihat handphonenya pindah memperhatikannya.
Vina nyengir menatap Rani lamat-lamat, lantas terlontar sebuah kata pendek, "Farid"
Pelan saja Vina menyebutkan kata itu, berbisik malah, sengaja agar yang mendengar hanya Rani. Tapi, itu cukup menghentikan langkahku yang persis sudah dibawah bingkai pintu kelas. Dan juga tentu saja teman yang lain yang masih sibuk dengan tugasnya.
"What????? Farid?"
Lupakan tugas bergegas balik kanan.
"^"
Huft, kalau mendengarkan baik-baik cerita Vina, aku pikir tidak ada yang spesial. Apanya yang spesial? Vina sedang santai dilobi kampus, saat itu duduk dilobi sudut mata Vina menangkap ada Farid yang melangkah masuk.
"Eh ada Vina. Siang Vin" Farid tersenyum
Vina mengangguk-angguk kayak orang sawahan. Ditengah teduhnya lobi kampus, kesibukan mahasiswa lain, dan lalu-lalang mahasiswa. Maka jadilah duduk santai bareng Farid. Bareng? enak saja, yang tepat Vina duduk santai bareng mahasiswa lain. Dan itu biasa saja, apanya yang spesial? istimewa? please deh, Farid itu memang gentle, ia ramah kesemua orang, memang kadang cuek, baik hati, disamping itu eh..........tentu saja tinggi, tampan dan pintar.
"^"
Tugas keperawatan kardiovaskuler itu sudah kelar sekitar pukul 14.00.
"Rani!" Ada yang berseru kencang. Persis saat aku mau duduk dibawah AC kelas.
"Ada apa, sih?" Rani mendekati Vina lebih dulu. Mendekat ke Vina yang sedang duduk menhadap handphonenya.
"BBM ku dibalas" Wajah Vina memerah bahagia, andai kata bisa diilustrasikan seperti komik-komik remaja, akan nampak bunga warna-warni dan pelangi segala diatas kepalanya. Tuing...Tuing.
"Dibalas siapa?" Rani ingi tahu, menyeruak melihat layar handphone Vina.
"Farid"
Aduh! Aku lagi-lagi menepuk jidat. Ternyata kami dipanggil teriak-teriak hanya urusan BBM.
"Tadi aku BBM nanya soal mata kuliah yang ini, lantas dia blas dengan kata-kata lembut" Vina sumringah.
Selalu menjelaskan menjelaskan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dijekaskan.
"Lihat kan?" Vina menunjuk BBMnya.
Aku balik kanan, ,menghela nafas, itu biasa saja kali. Farid baru saja terkoneksi dengan Vina, tidak ada hubungannya dengan duduk santai barusan.
"^"
Maka, bagi kami kelas segera berubah drastis seminggu terakhir, Vina sibuk atas pertemanan barunya didunia maya dengan Farid. Maksudnya sibuk bercerita, memberi tahu jika ada yang spesial menurutnya. Karena Vina lever ke GRannya yang tingkat nasional, maka itu berarti apa saja spesial baginya.
Sejak dua minggu terakhir ini, Vina sudah ngebet berat sama Farid. Perteamanan didunia maya ini terasa sungguhan benar olehnya, padahl didunia nyata? apanya yang deket? mereka paling cuma ngobrol satu dua kalimat, tidak ada bedanya dengan yang lain.
"Nggak semu kali" Aku memotong cerita Vina.
Vina yang sedang semangat cerita soal BBM Farid yang dianggapnya sebagai pertanda "hubungan mereka" menoleh padaku.
"Nggak semua apanya? Vina bertanya
"Ya nggak semua perhatiannya tentang kamu" aku mengangkat bahu.
"Kok kamu tahu? Vina bertany lagi.
"Tahu saja" Aku masih menanggapi.
"Terus kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu? bukannya kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan Farid? dan aku yakin sih nggak bakalan Farid ada hubungan dengan kamu" Vina melotot sambil nyengir.
"Memang enggak" Aku memastikan
Rani yang duduk ditengah tertawa, melihat muka Vina memerah.
"Ayo ngaku saja!" Vina nyengir, tidak percaya
"Kamu naksir Farid juga kan? pantas saja setiap kali bercerita wajahmu berubah, tidak terima. Ih cemburu ya? sayangnya kamu bua tipe Farid!" Vina memastikan itu padaku,
"Aduh! aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Siapa yang naksir? aku cuma memastikan, biar Vina tidak terlalu GR atas BBM Farid. Hanya itu! siapa pula yang cemburu? anak ini semkin error GRnya".
Rani semakin terpikal, menonton kami bertengakar.
"^"
Seminggu berlalu, tetap begitu-begitu saja kelakuan Vina.
"Raniiii, siniiii! ada yang baru" Vina persis seperti pembawa acara berita televisi yang sedang live liputan aksi, berseru antusias.
Aku dan rani yang sedang duduk, belajar dikelas lantai dua kampus bersama Vina yang asyik dengan handphonennya menoleh.
"Ada apa? Rani bertanya.
"Farid ran, Farid" Vina mendesis riang.
"Ada apa dengan Farid?"
"Farid bilang selamat ulang tahun.
"Lantas?" Aku bertanya, sedikit tidak sopan.
"Ya tidak ada lantas-lantasnya, aduh dia ngucapin selamat ulang tahun tapi belum jam 12 malam lohh" Vina cengengesan riang, "Farid orang pertama yang bilang, dia pasti sengaja"
"Biasa aja kali" aku kembali mengalihkan pandangan kebuku tebal tentang keperawatan. "Mungkin juga karena setting waktu facebook Farid pakai negara Amerika Serikat, jadi waktunya lebih cepat dibanding kita. Notifikasi ada teman berulang tahun muncul lebih cepat. Jadi, dia tidak sengaja ingin jadi orang pertama yang bilang"
"Dasar" Vina mengelak
Rani tertawa segera ber shhh "Sudah-sudah jangan bertengkar"
"Benar kan? itu memang tidak spesial kan?" Aku menatap protes kepada Rani.
Bagaimana mungkin Rani selalu membesarkan hati Vina? jelas-jelas itu hanya facebook, BBM. Di dunia nyata? bahkan aku yakin Farid tidak akan bilang kalimat itu langsung dikampus.
"Kamu naksir Farid kan? ayolah ngaku saja" Vina nyengir, balas berseru tidak sopan.
"Bukan itu poinnya" Aku mengelak.
"Ayolah ngaku saja" Vina memonyongkan bibirnya. "Kasihan, gebetannya ternyata naksir aku" Vina nyengir.
"Siapa yang naksir kamu Vin? Farid? aduh, jangan GR deh" Aku balas memonyongkan bibir.
Rani lupa kalau ia harus melerai, sekarang ia malah tertawa lebar melihat kami saling berseru.
Aku berdiri kesal, berlalu membawa serta buku tebal tentang keperawatan. Dari pada mendengarkan celoteh Vina yang semakin galau semesta.




